Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Penuh Kebohongan
Jakarta, 03 Agustus 2012
Nina terbangun dan melirik jam weker di samping tempat tidur yang menunjukkan pukul setengah tujuh lebih dua menit. Bibirnya membentuk senyuman dan tepat sewaktu alarmnya berbunyi, ia menekan tombol off. Ia menguap dan mengedipkan matanya selama beberapa menit sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur.
Hari ini adalah hari dimana Nina anniversary yang ke satu tahun dengan Andi, Andi Wijaya. Tak satupun dapat menjelaskan betapa bahagianya Nina. Hari terindah yang pernah dirasakan selama tujuh belas tahun ia hidup di dunia adalah hari dimana Andi mengutarakan perasaan kepadanya di hari ulang tahunnya dan hari ini. Tanpa buang waktu, Nina mengambil handuk dan bergegas mandi.
Nina mengenakan kaos putih yang tidak terlalu ketat. Diluarnya dipadukan dengan cardigan berwarna cream. Untuk bawahannya Nina mengenakan celana jeans berwarna biru tua.
Selesai mengikat tali sneakersnya, Nina bergegas ke rumah Andi. Tentu tidak dengan tangan kosong. Demi Tuhan, mana mungkin Nina melakukannya di hari anniv-nya yang ke satu tahun.
Nina membawa jersey Arsenal kesukaan Andi. Di belakang jersey tertera angka tiga, tanggal yang sama ketika Nina dan Andi mulai menjalin hubungan resmi.
Nina tersenyum sepanjang perjalanan ke rumah Andi, membayangkan betapa senangnya Andi dengan senyuman yang menghiasi wajahnya seharian penuh. Nina tahu kesukaan Andi terhadap klub bola Arsenal dan sudah lama menginginkan jersey ini. Nina tak sabar menanti kejutan yang akan Andi berikan kepadanya kali ini.
Setiap langkah yang dituju, senyum manis Andi yang hanya ditujukan kepada Nina muncul di pikirannya. Dan setiap langkah yang dituju mengurangi jarak antara Nina dengan rumah Andi. Nina dapat membayangkan wajah terkejutnya Andi saat ia melihat Nina di rumahnya. Nina terkikik, akan sangat bagus jika ia sempat menangkap ekspresi muka Andi dengan kamera dan menempel fotonya di koleksi album mereka.
Setiba di rumah Andi, Nina membuka pintu rumah Andi secara perlahan-lahan. Ia bertemu dengan orangtua Andi dan diletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sebelum kedua orangtua dapat mengucapkan namanya. Orangtua Andi melihat Nina sebelum mengangguk setelah menyadari rencananya untuk mengejutkan Andi. Nina tersenyum dan mereka pun tersenyum.
Ibu Andi, Devi memeluk Nina dan mengatakan bahwa mereka akan pergi sebentar. Nina pun mengangguk dan meminta izin kepada kedua orang tua Andi sebelum ia melangkah ke atas tanggak menuju kamar Andi.
Dari anak tangga terakhir terlihat seberkas cahaya keluar dari pintu kamar Andi yang terbuka. Dari kejauhan dapat tercium parfum, parfum gadis yang jelas bukan milik Nina. Nina mengangkat alisnya. Apakah Andi membawa gadis selain Nina ke kamarnya?
Nina membuang pikiran jelek itu jauh-jauh. Tidak, mungkin itu adalah teman Andi atau mungkin temannya yang sangat dekat sehingga ia membawanya ke kamarnya. Tetapi Nina tidak dapat mebuang firasat buruk yang menganggunya. Firasat itu seakan-akan mengatakan kepada Nina bahwa Andi selingkuh darinya.
Dengan rasa curiga dan penasaran, Nina mengitip dan melihat Andi dengan…
Seorang perempuan.
Mungkin perempuan itu adalah teman Andi. Ya, hanya sekedar teman.
Tapi teman tidak mencium satu sama lain tepat di bibir kan? Cuman orang idiot yang akan percaya.
Hanya satu konklusi yang bisa Nina dapatkan. Bahwa Andi memang benar-benar selingkuh dari Nina.
Dengan bahu yang jatuh dan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca, Nina mengambil langkah mundur dan pelan-pelan turun ke bawah, meninggalkan jersey dengan selembar catatan di atas meja makan.
“Happy Annivesary Andi! Thanks for the 1 year you’ve spent with me. Let’s make a lot of happy memories this year.
Lots of love,
Nina J”
Nina J”
Nina menggigit bibirnya dan bergegas pulang. Sesampainya Nina di rumah, ibunya terkejut melihat wajah anak perempuannya.
“Mama kira kamu bakal pulang larut malam. Mmmm.. dimana Andi?” tanya Reni sambil melihat ke sekelilingnya.
Dahi Nina berkerut. Tanpa membalas sepatah katapun, Nina lari menuju kamarnya secepat yang ia bisa dan mengunci pintu. Air mata yang dari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Hal selanjutnya yang Nina tahu bahwa ia menangis sangat deras ketika mengingat kejadian di rumah Andi.
Kenangan waktu semasa ia kecil mengisi otaknya. Nina kecil yang masih berumur tiga tahun tidak tahu kenapa semua orang mengatakan cinta adalah anugrah bagi orang yang sedang jatuh cinta. Ia tidak tahu banyak waktu itu, tapi ia tahu ia ingin merasakan kebahagian yang dikatakan.
Inikah rasa kebahagian untuk orang yang mencintai? Rasa sakit yang menyayat hatinya semakin lama ia mengingat kekasihnya mencium perempuan lain.
Cinta itu anugerah? Omong kosong. Mungkin sebutir kebahagian dan kesedihan yang mendalam, batin Nina.
Tisu bekas tangisan bertebaran di sekeliling tempat tidurnya. Nina menghabiskan banyak tisu menangisi cowok sialan itu. Kantong mata Nina menjadi lebih besar. Semua orang yang melihatnya pasti tahu bahwa Nina habis menangis. Handphone Nina pun bergetar dan flash light menyala merah, tanda adanya BBM masuk. Nina membuka bbmnya dan mendapatkan bbm dari Andi yang mengirim sebuah voice note.
“Nina, happy one year anniversary sayang! Makasih ya udah buat hidupku lebih berwarna. Kamu nggak tau seberapa bahagianya aku punya pacar kayak kamu. Like, hey Nina Ramadhani’s my girlfriend! Anyway, kutunggu kamu di tempat pertama kali kita bertemu ya, love you.” sampai disitu voice note berhenti.
Nina tidak dapat berkata apa-apa, hanya senyuman pahit menghiasi wajahnya. Bersyukur, hah omong kosong. Ya, betapa bersyukurnya Andi memilikinya dengan menunjukan untuk mencium gadis lain di kamarnya. Dasar cowok sialan. Tunggu saja ketika ia akan memutuskannya!
Namun rencana Nina untuk memutuskan Andi gagal ketika Andi memberikan senyuman mautnya itu kepadanya, menjaganya dengan baik, membuat lelucon, bahkan sampai menyanyikan lagu untuknya di restoran.
Semua yang Andi lakukan membuat Nina semakin sayang dan cinta kepadanya! Andi mempersulit keadaan untuk Nina disaat Nina ingin memutuskan hubungan dengan Andi.
Setibanya di rumah, Nina mengutuk dirinya sendiri karena bertindak bodoh. Dibenamkan wajahnya ke bantal dan ia menggeram. Nina terlalu mencintai Andi sampai-sampai ia berpikir untuk memaafkan Andi setelah apa yang dilakukan Andi kepadanya.
Hari ini memang terjadi kejadian yang biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Itu langkah ke enam mereka: Selingkuh
Cerpen Karangan: Faraahfi
RSS Feed
Twitter
09.53
Priyo Prillangga
0 komentar:
Posting Komentar