Itu dia orang yang sedang mengisi kekosongan hatiku yang telah ditinggalkan oleh sang mantan,tapi walaupun dia mengisi kekosongan hatiku aku masih belum puas jika belum bias memilikinya, kenapa? Ya karena sikap ketidakpuasanku pada sesuatu yang sudah pernah kumiliki.
Namanya dwi. perempuan berkacamata yang cantik dan imut di ikuti senyuman yang kadang menggetarkan jantung ini menjadi lebih cepat. aku belum mau mengungkapkan rasa ini, kenapa? Ya karena aku belum mampu jika harus bersama atau ditolak olehnya, tapi bukan karena itu saja aku masih belum diperbolehkan untuk berpacaran oleh orang tuaku.
Pengagum rahasia, itu yang mungkin aku dapatkan sekarang mengagumi seorang perempuan nan cantik itu, cara bicaranya, senyum, dan semua tingkah lakunya sangat kusuka. Tapi apa daya aku memang harus bisa menahan rasa cinta seorang remaja sepertiku ini.
“Hei Christ, bengong aja…” seseorang melambai di depan mataku.
“ohh, hehehe…!” balasku dan ternyata dia dwi.
“kamu gak makan?” Tanya dia seketika membuat jantungku berdebar kencang.
“oh, enggak…” balasku gugup.
“trus gak jajan..?”
*balasku menggelengkan kepala* lalu dia segera berlalu dari hadapanku.
“Hei Christ, bengong aja…” seseorang melambai di depan mataku.
“ohh, hehehe…!” balasku dan ternyata dia dwi.
“kamu gak makan?” Tanya dia seketika membuat jantungku berdebar kencang.
“oh, enggak…” balasku gugup.
“trus gak jajan..?”
*balasku menggelengkan kepala* lalu dia segera berlalu dari hadapanku.
Oh tuhan apakah ini yang dinamakan pengagum rahasia? kenapa harus sesulit ini? tak bisakah kau buang saja rasa yang telah tertanam ini? aku mohon…! (seruku dalam hati). Beberapa kali aku berbicara dengannya, seperti biasa dia yang memulai pembicaraan dengan orang secuek dan sependiam seperti aku ini. Dan aku juga selalu luluh jika dia yang meminta sesuatu atau menanyakan sesuatu, pasti dengan segera kulakukan, Aku pikir aku sudah seperti orang suruhannya atau pembantunya.
Sampai suatu saat, pelajaran “Bahasa Indonesia”, dwi dengan kelompoknya maju kedepan untuk mempresentasikan apa yang telah mereka diskusikan. Kulihat caranya menjelaskan dan berbicara kurang lebih sepertiku. tanpa sadar aku berkata…
“Gue ngefans…!”
“Sama siapa?” Tanya janifar teman sebangku ku.
“Sama Dwi!”
“Cieee.. gua bilangin ya!”
“Bilangin aja, kalo berani?!” tantangku
“Dwi sini coba…!” ucap janifar karena Dwi dan kelompoknya telah selesai berpresentasi.
“Apa Agam?” ucap dwi *agam adalah panggilan janifar*
“Ehh ada yang ngefans sama kamu..!” ucap janifar seketika membuat jantungku berdetak sangat kencang.
“Siapa?” Tanya dwi lembut.
“Samping gue dwi!” ucap janifar, segera aku menghadap dwi.
“Christ kamu?” ucap dwi.
“Iya aku ngefans sama kamu..!” Ujarku sambil tersenyum lepas.
“Sama aku juga ngefans sama kamu…!” ucap dwi, lalu dengan malu ia duduk ke tempat duduknya.
“Cieee…!” sorak beberapa orang teman sekelas yang mendengar pembicaraan kami.
“Gue ngefans…!”
“Sama siapa?” Tanya janifar teman sebangku ku.
“Sama Dwi!”
“Cieee.. gua bilangin ya!”
“Bilangin aja, kalo berani?!” tantangku
“Dwi sini coba…!” ucap janifar karena Dwi dan kelompoknya telah selesai berpresentasi.
“Apa Agam?” ucap dwi *agam adalah panggilan janifar*
“Ehh ada yang ngefans sama kamu..!” ucap janifar seketika membuat jantungku berdetak sangat kencang.
“Siapa?” Tanya dwi lembut.
“Samping gue dwi!” ucap janifar, segera aku menghadap dwi.
“Christ kamu?” ucap dwi.
“Iya aku ngefans sama kamu..!” Ujarku sambil tersenyum lepas.
“Sama aku juga ngefans sama kamu…!” ucap dwi, lalu dengan malu ia duduk ke tempat duduknya.
“Cieee…!” sorak beberapa orang teman sekelas yang mendengar pembicaraan kami.
Oh tuhan terimakasih kau telah bantu untuk mengungkapkan rasa ngefans ku padanya, cukup sampai disini saja aku berikan rasa ini, aku tidak menginginkan kelanjutannya semoga dia tak mempunyai rasa yang sama denganku, karena aku pikir cukup sampai disini saja rasa “Diam-diam suka ku” padanya.
Cerpen Karangan: Christmemory
RSS Feed
Twitter
10.14
Priyo Prillangga
0 komentar:
Posting Komentar