Minggu, 24 November 2013

Ketika tuhan memberikan ujian kepada hamba-hambanya secara terus menerus, bukan berarti DIA membenci, tetapi malah sebaliknya tuhansayang kepada hambanya dan akan mengangkat tinggi derajat kita jika kita berhasil menjalani cobaan demi cobaan yang di berikanNYA. Seperti itulah keadaan apa yang di rasakan oleh Fahru alias Aru. ia adalah seorang pemuda yang tumbuh tegar layaknya bebatuan karang, setelah ia di tinggalkan oleh kedua orangtuanya. kini ia tinggal bersama adik kecilnya Dimas di sebuah gubuk kecil di bawah kolong jembatan perkotaan. Rumah itu tampak kumuh dan kotor, yang hanya memiliki satu ruangan saja. dan juga bisa dikatakan tidak layak huni. Beriramakan suara bising kendaraan dari atas jalan layang, sudah menjadi hal biasa bagi mereka, tetapi disitulah istananya bernaung.
Memang dulu ia dan adiknya sempat tinggal bersama tetangga di desanya, karena rumah peninggalan almarhum ayahnya di sita oleh renternir setelah tak lagi sanggup membayar hutang sepeninggalan ayahnya karena sakit yang di deritanya. Akan tetapi aru merasa tak enak hati jika terus menumpang hidup di rumah orang. Akhirnya ia nekad pergi ke kota bersama dimas, dan sampai sekarang mereka tinggal bersama di gubuk kumuh itu.
Suatu ketika di saat Dimas adiknya Aru bermain-main bersama teman-temannya dia melihat adaorang yang membawa kue bolu khas ulang tahun, dan Dimas merasa ingin sekali membeli kue itu. dengan sikap yang polos, Dimas mengadukan keinginannya kepada kakanya Aru “kak, ade pengen sekali beli kue bolu ulang tahun, kayanya enak ya kak…?” kata Dimas dengan gayanya yang manja kepada Aru. sejenak Aru terdiam, ia merasa aneh karena baru kali ini adiknya meminta yang tak pernah dipikirkannya, tapi ia berusaha membuat adiknya senang, dengan mengiyakan untuk membeli kue itu. “iya de, insya Allah kalau abang ada rezeki lebih nanti abang pasti beliin kuenya, tapi ade janji ya jangan nakal” jelas aru dengan senyum yang manis sambil memebelai kepala dimas spontan hal itu membuatnya bingung “dari mana aku dapat uang buat beli kue itu, sedangkan untuk makan saja susah” ujar aru dalam hati, lalu ia teringat akan sesuatu, sehingga Aru langsung bergegas mengambilnya. “pyaaar” suara pecahan celengan ayam Aru yang baru ia isi satu bulan ini. Setelah ia hitung-hitung uangnya hanya ada 50 ribu 5 ratus rupiah saja, itu juga kebanyakan uang receh. Tetapi senyum sumringah kini melekat di wajah Aru, karena ia sedikit punya uang untuk membelikan adiknya kue.
Tepat hari itu tanggal 5 desember adalah hari dimana dimas adiknya ulang tahun yang ke 7, dan Aru bersiap-siap pergi untuk membeli Apa yang ia janjikan. Dan tak lupa ia juga membawa uang yang di masukannya ke dalam kantong kresek merah. Kesana kemari mengelilingi toko demi toko, dan akhirnya ia menemukan satu toko kue yang ia rasa murah harganya. “permisi mba, saya mau beli kue tapi kira-kira berapa ya rata-rata harganya” tanya Aru kepada si pelayan toko. “oh yah silahkam mas, harga rata-rata kue di sini bervariasi, mulai dari 50 ribu sampai yang 500 ribu juga ada, terserah masnya saja mau beli yang mana” jelas pelayan toko itu. Dengan uang pas-pasan, ia membeli kue yang kecil sesuai dengan keadaan uang Aru. “tidak apa-apalah yang penting aku bisa beliin kue ulang tahun buat adik aku dimas”.
Setelah membelinya, lantas Aru langsung membawa pulang kuenya. Saking senangnya, ia lupa akan keadaan… tiba-tiba “braaak” Aru terpental cukup jauh karena ia tersrempet mobil silver bermerk Avanza yang melaju cukup kencang. Seketika sekerumunan orang-orang pun terlihat mengelilinginya. Sempat Aru pingsan, setelah itu ia langsung sadarkan diri dan mencari-cari dimana kuenya terlempar. Tak lama kemudian supir mobil yang menabraknya keluar dan menghampiri Aru. “maap de, ade baik-baik saja, mana-mana yang luka, ayo bapak bawa ke rumah sakit” ajak supir tadi dengan wajah yang cemas dan berkeringat dingin sambil mengangkat tubuh Aru yang penuh luka. “ng…nggak usah pak, sa…saya baik-baik saja kok” ujar Aru yang meringis menahan rasa sakit. Tetapi terus saja orang itu tak henti-hentinya membujuk Aru agar mau di bawa ker umah sakit, tetapi Aru tetap saja menolaknya. Dan akhirnya setelah beberapa kali di paksa, Aru pun menerima tawaran itu, tetapi bukan untuk di bawa ke rumah sakit, melainkan menggantinya dengan kue Aru yang jatuh tadi. Cukup kaget memang bapak itu mendengar permintaan Aru, tapi ia menuruti saja kemauannya. “Ya sudah nanti bapak ganti yang lebih besar ya de”.. “nggak usah yang besar ko pak, cukup kue yang sama saja yang saya mau”.
Akhirnya kue itu di ganti, Aru langsung pergi pulang. “asyiiik abang datang bawa kue” gelak tawa kegirangan dimas sambil menghampiri kakaknya. “haah, abang kenapa banyak luka” tanya polos Dimas yang heran dengan kondisi Aru. “nggak apa-apa kok de, abang baik-baik saja. Nih kue yang abang janjiin itu, tapi maafin abang ya, kuenya gak besar!” “Wah asyik- asyik sekarang ade bisa makan kue bolu.. makin sayang deh ade sama abang”. Wajah sumbringah yang penuh keceriaan terpancar jelas di setia guratan kulit imut dimas kecil. “kalau sayang abang, sini dong peluk abangmu ini…!”. Dengan perasaan yang sangat senang, akhirnya ia bisa membelikan kue ulang tahun adiknya untuk pertama kali walaupun harus dengan bercucuran darah sekalipun…” abang berjanji akan membahagiakanmu semampu abang. Karena kebahagiaan abang ada di kamu.. happy brithday adikku”
Cerpen Karangan: Muhammad Suhendar

0 komentar:

Posting Komentar