Bali merupakan saksi dari cerita cintaku. Awal dari ketidakesengajaanku memperhatikannya. Sosok penyemat di hatiku. Ku bisa dapatkan kasih sayang seorang kekasih darinya. Minggu malam 12 mei disini kisahku dimulai. Kampusku mengadakan acara KKL ke BALI selama 5hari. Ini kabar gembira bagiku karena bisa dekat dengannya. Malam berangkat KKL pun tiba. pukul 19.00 aku sudah tiba di kampus. Aku menemui kedua sahabatku “Dilla” dan “Rita” yang duduk di Masjid.
“hai” sapaku.
“kok kamu baru datang sih?” Tanya Rita.
“hehehehe… maaf. Tadi perjalanannya macet dan mampir makan malam dulu.” Jawabku.
“kamu jadi bawa kamera gak?” Tanya Dilla.
“oh jelas bawa dong.”
“sip deh kalau gitu. Asyik bisa foto-foto di Bali.”
“oya si Supri ikut gak?”
“katanya sih dia ikut kok.”
“wah, seneng donk. Kamu bisa pacaran.”
“ngarang kamu. Aku dan dia hanya sebatas teman.”
“TTM ya? Teman Tapi Mesra.”
“hehehe…”
“hai” sapaku.
“kok kamu baru datang sih?” Tanya Rita.
“hehehehe… maaf. Tadi perjalanannya macet dan mampir makan malam dulu.” Jawabku.
“kamu jadi bawa kamera gak?” Tanya Dilla.
“oh jelas bawa dong.”
“sip deh kalau gitu. Asyik bisa foto-foto di Bali.”
“oya si Supri ikut gak?”
“katanya sih dia ikut kok.”
“wah, seneng donk. Kamu bisa pacaran.”
“ngarang kamu. Aku dan dia hanya sebatas teman.”
“TTM ya? Teman Tapi Mesra.”
“hehehe…”
Kami disuruh berkumpul sebelum berangkat. Mataku dengan lincahnya mencari sosoknya. Namun ku belum melihat dia. Hatiku was-was barangkali dia tidak jadi ikut. Kami semua telah diperbolehkan masuk ke dalam bis masing-masing.
ketika akan masuk ke dalam bis. Aku melihat dia sedang duduk bersama teman-temannya. Hatiku sangat senang melihatnya. Aku pun menyapa saat lewat di depannya. dia juga membalas dan melemparkan senyum. Pukul 21.00 bis pun perlahan berjalan keluar dari halaman kampusku. Di dalam bis aku duduk dengan Dilla. Rita duduk sendirian. Dia tak ada pasangan duduk.
ketika akan masuk ke dalam bis. Aku melihat dia sedang duduk bersama teman-temannya. Hatiku sangat senang melihatnya. Aku pun menyapa saat lewat di depannya. dia juga membalas dan melemparkan senyum. Pukul 21.00 bis pun perlahan berjalan keluar dari halaman kampusku. Di dalam bis aku duduk dengan Dilla. Rita duduk sendirian. Dia tak ada pasangan duduk.
Di dalam bis aku mulai boring tak ada yang diajak ngobrol. Rita sudah tertidur. Dilla asyik sms’an dengan pacarnya. iseng-iseng aku sms dia.
“hmm… lgi npz?” sms dariku.
“lgi didlm bis vi. Ko blm bubuk km vi?” sms darinya.
“iya mas. Via gk bz tdr. Mas blm ngantuk?”
Kami pun terus berbalas sms. akhirnya mataku mulai ngantuk. Aku tak membalas sms darinya.
“hmm… lgi npz?” sms dariku.
“lgi didlm bis vi. Ko blm bubuk km vi?” sms darinya.
“iya mas. Via gk bz tdr. Mas blm ngantuk?”
Kami pun terus berbalas sms. akhirnya mataku mulai ngantuk. Aku tak membalas sms darinya.
Perjalanan masih sangat jauh. Pagi hari kami tiba di kota ngawi jawa timur. Bis pun berhenti untuk istirahat sejenak, mandi dan makan pagi. Aku dan kedua sahabatku turun untuk mencicipi kopi susu hangat. Aku belum melihat supri. Ternyata bis dia datang paling belakang. Sambil menuunggu bis yang supri naiki tiba. Aku dan kedua temanku mandi bergantian. Setelah mandi badan terasa segar. Kami berjalan-jalan di toko sebelah restoran. Capek melihat-lihat kami dipanggil untuk sarapan pagi. Makan cathering pasti harus ngantri, lalu duduk di tempat yang kosong.
“tehnya gini yah?” kataku.
“emang rasa apa?” Tanya rita.
“kayak agar-agar.”
“namanya juga teh celup. Ya gini rasanya.” Jawab dilla.
“eh vi. Tuh supri. Dia kayak baru bangun tidur?”
“hemm… iya mungkin.”
“jorok ih cowok kamu belum mandi udah makan.”
“biarin aja. dia kan bukan pacarku.”
“bukannya kamu dan supri jadian?”
“kata siapa? Aku dan dia gak jadian kok.”
“tehnya gini yah?” kataku.
“emang rasa apa?” Tanya rita.
“kayak agar-agar.”
“namanya juga teh celup. Ya gini rasanya.” Jawab dilla.
“eh vi. Tuh supri. Dia kayak baru bangun tidur?”
“hemm… iya mungkin.”
“jorok ih cowok kamu belum mandi udah makan.”
“biarin aja. dia kan bukan pacarku.”
“bukannya kamu dan supri jadian?”
“kata siapa? Aku dan dia gak jadian kok.”
Makan habis, perut kenyang, waktunya jalan-jalan dan foto-foto. Di ngawi asyik bisa foto-foto dengan teman-teman. Bis pun mulai berjalan. Semua masuk ke dalam bis masing-masing. Perjalanan ke bali sangat jauh dan melelahkan. Malam hari pukul 21.00 tibalah kita di pelabuhan ketapang untuk menyebrang ke Gilimanuk. Semua penumpang bis diharapkan masuk ke dalam ruang khusus penumpang. Di dalam kapal aku bisa ngobrol dengan supri. Dia sangat perhatian terhadapku. Dia pun mengatakan kalau dia sayang padaku. Kami pacaran secara backstreet. Kedua sahabatku tak tau kalau aku dan supri berpacaran.
Setelah 30 menit kami semua tiba di pulau dewata BALI. Welcome to Bali. Kita melanjutkan perjalanan lagi. Pagi hari telah tiba di Pasar Budaya Kemangun. Pukul 06.00 aku mengajak kedua sahabatku mandi. Didekat kamar mandi aku melihat supri sedang tidur di balai-balai. Aku menghampiri supri untuk membangunkan dia.
“mas, bangun toh dah pagi.” Kataku.
“masih ngantuk.” Jawab nya
“bangun toh mas shalat terus mandi biar segar.”
“aku udah shalat de.”
“ya udah mandi sana.”
“nanti ah de. Kamu dulu sana de. Mandi duluan.”
“ya aku mandi duluan. Aku titip tasku ya mas?”
“iya sini tasnya.”
“mas, bangun toh dah pagi.” Kataku.
“masih ngantuk.” Jawab nya
“bangun toh mas shalat terus mandi biar segar.”
“aku udah shalat de.”
“ya udah mandi sana.”
“nanti ah de. Kamu dulu sana de. Mandi duluan.”
“ya aku mandi duluan. Aku titip tasku ya mas?”
“iya sini tasnya.”
Lalu aku pergi ke kamar mandi menyusul dilla dan rita yang sedang mengantri. Lama mengantri aku pun mandi juga. Seger sekali airnya. Selesai mandi aku mengambil tasku dan mengambil kamera untuk foto-foto di dekat patung-patung. Aku lihat supri sudah mandi dan sedang foto-foto. Aku diajaknya foto berdua. Tak disangka dia memelukku saat foto. Aku grogi di hadapannya.
Hari Pertama tiba di Bali. Sesuai jadwal melihat pementasan tari barong di Gianyar. Supri menyuruhku untuk dekat dengan dia. Tapi aku gak mau karena takut ketahuan yang lain. Tari barong selesai menuju Cening Bagus untuk transit makan siang. Disana makanan nya lumayan. Ada sate yang di jawa gak ada. setelah belanja di Cening Bagus. sekarang menuju ke Tanjung Benoa/ Nusa Dua. Cuaca awalnya mendukung untuk bermain air. Ternyata airnya kebanyakan. Kabut mulai gelap. Air pun runtuh dari langit. Aku dan kedua temanku berniat balik ke bis. Di tengah perjalanan hujan semakin deras. Kita bertiga kehujanan. Basah semua baju kami. Karena basah kami dilarang masuk bis. Kami disuruh untuk ganti pakaian. Kita menumpang ganti baju di kamar mandi SMA. Kami bingung mencari toilet dan tersasar di tempat seperti gudang.
“mana sih toiletnya?” kata rita.
“tadi aku tanya pada bapak-bapak katanya toiletnya sebelah ujung.” jawabku
“itu kali vi. Tapi kok seram gitu ya?”
“ih aku jadi mrinding nih dil.”
“ya udah kita ke toilet yang tengah aja.”
“iya deh” jawab aku dan dilla.
“dua kali ke bali pasti di nusa dua hujan.” Sahutku
“parah ah. Aku gak pernah hujan-hujanan. Di sini kayak gini.”
“tadi aku tanya pada bapak-bapak katanya toiletnya sebelah ujung.” jawabku
“itu kali vi. Tapi kok seram gitu ya?”
“ih aku jadi mrinding nih dil.”
“ya udah kita ke toilet yang tengah aja.”
“iya deh” jawab aku dan dilla.
“dua kali ke bali pasti di nusa dua hujan.” Sahutku
“parah ah. Aku gak pernah hujan-hujanan. Di sini kayak gini.”
Setelah berganti pakaian. Kami kembali ke bis. Sore nya kita menuju jogger dan pantai kutha. Bis pariwisata hanya bisa sampai parkiran. Akses menuju jogger dan pantai kutha menggunakan angkutan terbuka mirip ellep namun tak ada kacanya. Elep itu akan jalan jika diisi 23 penumpang. Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya sesak. 3 kali harus naik elep itu. Capek nya seharian berkeliling. Malam harinya menyudahi perjalanan hari ini. Saatnya makan malam di hotel yg sudah disediakan. Kami makan malam lalu masuk ke kamar masing-masing. Aku kebagian sekamar cuma anak tiga. Aku dan kedua sahabatku.
Hari kedua di Bali. Jadwal hari ini belajar mengenal Desa Adat Tenganan Karangasem. Setelah mandi dan sarapan. Kita semua cabut menuju desa tenganan. Sampai disana batinku berkata WOOOWWW desanya masih asri sekali. Penduduk desa sedang membuat membuat kain gringsing. Di tembok rumah penduduk terpajang lukisan yang belum pernah aku liat sebelumnya. Penduduk desa banyak yang memelihara kerbau. Jalan menuju tempat dimana kita belajar sangat jauh hampir 3 kilometer. Jalannya penuh dengan assesories kotoran kerbau. Jalan harus berhati-hati dan selalu menunduk.
Di desa adat kami mendapat banyak sekali ilmu tentang desa adat. Acara belajar di desa adat pun selesai kami menuju krisna. Menghabiskan sebagian uang di krisna. Kemudian kami menuju pasar terbesar di Bali yaitu Pasar Sokawati. Namanya juga pasar kita harus pintar-pintar bernego dengan pedagang. Kalau tidak kita akan rugi. Makan malam kita di pantai sanur. Restorannya sangat romantis sekali. Di meja ada lilin-lilin kecil. Supri mengajakku kencan.
“de, udah makan?” tanya supri padaku.
“udah kok mas.”
“de, jalan-jalan liat pantai sanur yuk??”
“yuk mas.”
“teman-teman tau gak de kita pacaran”
“kayaknya gak tau mas.”
“yuk mas balik ke bis. Ade takut lama-lama disini. Tempatnya gelap.”
“kan ada mas de.”
“yuk mas balik.”
“ya udah balik ke bis.”
Dari pantai sanur rombongan menuju hotel untuk beristirahat dan berkemas. Besok sudah harus pulang.
“de, udah makan?” tanya supri padaku.
“udah kok mas.”
“de, jalan-jalan liat pantai sanur yuk??”
“yuk mas.”
“teman-teman tau gak de kita pacaran”
“kayaknya gak tau mas.”
“yuk mas balik ke bis. Ade takut lama-lama disini. Tempatnya gelap.”
“kan ada mas de.”
“yuk mas balik.”
“ya udah balik ke bis.”
Dari pantai sanur rombongan menuju hotel untuk beristirahat dan berkemas. Besok sudah harus pulang.
Hari ke tiga dan terakhir di bali. Sebelum meninggalkan bali kita mampir ke tanah lot. Tempat wisata yang paling indah di pulau dewata. Sesampainya disana kami berfoto-foto Karena tak mau menyia-nyiakan pemandangan yang paling indah. Berlomba-lomba untuk foto dengan bule. Di tanah lot banyak sekali pura-pura disana seperti: pura enjung galih, pura batu bolong, pura batu mejan dan pura luhur perkendungan.
Kami akhirnya pulang ke kota tegal tercinta. Perjalanan sangat jauh. Kami menyeberang masih sore. Di kapal aku dan supri berantem karena kecemburuan. Dan saat sampai Kendal jawa tengah di restoran kami resmi putus. Cinta ku dan dia hanya sesaat dan terjadi hanya di Bali.
Cerpen Karangan: Devinta Ayu Patrichia
RSS Feed
Twitter
09.32
Priyo Prillangga
0 komentar:
Posting Komentar