Minggu, 24 November 2013

Kopi ini hanya terlihat kabut tipisnya dan menebarkan aroma khas. Belum berhenti mencari inspirasi untuk apa yang sekarang harus ku tulis setelah aku kehilangannya. Waktu seakan berhenti ketika aku melihat gundukantanah merah yang dikelilingi manusia-manusia meratapi tahah tersebut dengan air matanya. Di batu nisan tersebut tertuliskan persis apa yang tertulis di undangan yang akan kusebar minggu depan, nama mempelai wanitanya dan binti siapa dia.
Aku hanya lelaki biasa, rasanya sudah capek mengeluarkan air mata ketika kulihat jasadnya sudah tertutup kain putih. Sekarang ia sudah tak terlihat, aku sertakan memori kesakitan ikut terkubur bersamanya dan masih kubawa memori indah yang akan terus hidup menemaniku.
Sempat terfikir untuk menuliskan jalan sedih hidupku, tetapi aku tak mau membuka liang lahatnya dan mengambil sepenggal kisah sedih kita, mana mungkin aku hanya menuliskan cerita indah saja di buku baruku, apa yang dipelajari para pembaca bukuku jika tak aku ikut sertakan memori kesakitan cinta? apa aku harus berbohong? Bahwa cinta itu indah? Setelah apa yang selama ini aku rasakan?
Cerpen Ice Cream Love
Aku melihat keluar jendela, orang-orang hiruk-pikuk terlihat masih sibuk padahal mereka seharusnya menikmati hari libur di taman kota ini, banyak anak-anak harus menikmati masa kanak-kanaknya yang kurang seru karena melihat ayahnya sibuk dengan HPnya dan ibu yang sibuk bergosip dengan ibu temannya. Aku hanya tersenyum tipis, ternyata memang waktu belum berputar sepertinya. Dunia belum kembali indah
“oh, sudah kuduga!! Lagi? Di hari minggu? Di coffee shop ini lagi?” sapa Eko, asistenku yang terpaksa mencari pekerjaan lain karena aku sudah membiarkannya menganggur.
“oh, kamu Ko!”
“yaelah!! Pura-pura kaget? Hohoho!” ejeknya
“gimana kerjaanmu? Lancar?” aku mengambil secangkir kopi yang sudah tak berkabut tipis lagi,
“ya, lumayan lah, tapi lebih besar gajiku yang dulu!”
“hahaha”
“eh, gue sih rela aja kalau jadi baby sistermu jika gajinya masih sama ama yang dulu…”
“hahaha, itu tawaran yang cukup menggiiurkan!” ucapku bercanda
“beneran!!!” ia menyrobot kopi yang akan ku minum
“maksudmu baby sister kan? mandiin gue, gantiin popok, nemenin gue bobok siang!!” kataku nyolot karena cukup lama aku menunggu kopi panas itu berubah hangat, tapi dia semena-mena meyrobotnya
“sluuupphhh, ahhh…”
“auhhh, joroknya”
“ahhh, memang beda rasanya kopi rasa gratis” Eko memasang tampang mengejek
“ah, gue mau keluar dulu beli rokok..”
“siaap baby!!”
Aku tersenyum meninggalkan tingkah polah sahabatku satu ini.
Kubuka pintu café itu, merasakan udara segar alami meskipun agak panas tetapi udara ini lebih baik daripada aroma kopi di cafee yang tercampur dengan dinginnya udara AC
Aku lihat ada bapak-bapak jualan es krim, kayaknya segar!! kuhampiri dia.
“paak, tunggu” kulihat bapak-bapak tersebut semakin jauh menjajakan jualannya
Aku setengah berlari mengejarnya dan tidak sengaja menabrak seorang anak kecil
“oh… maaf maaf dek, kamu nggak papa?” untung dia tidak terjatuh
Ia menjawabnya dengan muka sedih sambil meratapi sesuatu yang terjatuh di depannya, es krim.
Anak kecil itu tiba-tiba menatapku tajam, tatapan itu menakutiku
“hehe, maaf dek, jangan nangis ya!! Mama kamu mana” aku gugup
Anak kecil itu menunjuk ke arah kerumunan pedagang kaki lima. Ia menarik ujung jaketku, sepertinya ia menyuruhku untuk berjongkok, mungkin dia mau mengatakan sesuatu
“apa?” aku menatapnya
Ia menggerakkan beberapa isyarat dengan tangannya dengan ekspresi marah! Ya tuhan, dia tidak bisa bicara. Aku semakin merasa bersalah, tapi rasa bersalahku berubah kebingungan ketika aku tak kunjung faham apa yang ia inginkan
“pelan-pelan dek!” aku masih bingung, kelihatannya sekarang aku naik level menjadi orang bodoh karena Cuma melongo melihat gerakan-gerakan dan mencoba menterjemahkannya sendiri
Ia menepukkan tangannya ke dadaku, sekarang aku paham maksudnya “aku? kenapa”
Selanjutnya ia mengayunkan jari jemarinya membentuk tanda-tanda tak jelas, sepertinya ia sudah mulai kesal, tetapi tiba-tiba ada yang menepukku dari belakang kemudian aku berdiri dan berbalik. Terlihat perempuan cantik, sekejap aku dibuatnya semakin bodoh dengan ekspresinya yang seakan menyalahkanku, ia sekarang yang jongkok di hadapan anak kecil itu. Aku terkejut, perempuan itu juga berkomunikasi dengan bahasa yang sama, isyarat.
Ia berdiri di hadapanku dan mengeluarkan memo kecil yang tergantung di lehernya, ia menuliskan sesuatu dan menyerahkannya padaku
Anak kecil ini tidak bisa pulang sekarang karena ia
Mencuri uang ibunya untuk membeli eskrim
Ah, aku faham sekarang
“katakanan padanya aku minta maaf, aku harus berbuat apa?”
Ia memperhatikanku dan menulis kembali di memo kecilnya
Aku tuli,
Aku bingung, ia menepuk pundakku dan mulutnya seperti mengucapkan kata pelan-pelan, oh, aku faham sekarang
“katakan padanya kalau aku minta maaf, aku harus berbuat apa!” aku berbicara pelan dan memperjelas konsonan kata dengan cara lebih melebarkan mulutku ketika mengucapkan kata-kata. Ia mengangguk faham, perempuan itu kembali berjongkok mengatakan apa yang aku suruh katakan tadi kepada anak kecil itu dengan bahasa mereka. Tetapi anak kecil itu malah menangis
“ahh, malah nangis… Gimana nih”
Perempuan itu mengangkat pundaknya menandakan dia juga bingung, aku melihat sekeliling. Ah ada mini market. Aku meraih tangan anak kecil dan perempuan itu.
Sesampainya di dalam mini market Aku berbalik memandang perempuan itu
“nah, kamu bisa makan eskrim sebanyak-banyaknya”
Perempuan itu tersenyum lebar, mereka berbicara lagi dengan bahasa mereka. Anak kecil itu langsung berlari menghampiri eskrimnya dan memilih dengan ekspresi yang luar biasa gembira. Aku tersenyum melihatnya
Aku menoleh kembali ke arah perempuan itu
“kamu juga bisa makan eskrim sebayaaak-banyaknya” tanganku kurentangkan mencoba memberi isyarat ‘banyak’, ia juga tersenyum gembira dan ikut serta memilih sesuatu bersama anak kecil tadi. Aku menghampiri mereka, tiba-tiba terbesit ide gila
“mbak, bisa bantu sebentar!” aku memanggil pelayan mini market
“ada kotak perkakas yang agak besar nggak di sini?”
“oh ada mas, sebentar saya ambilkan” ia meninggalkanku
Aku menghampiri mereka dengan kotak perkakas besar di tanganku, aku menarik lengan perempuan itu
“nah! Ayo kita beli eskrim yang banyak”
Aku mencakup banyak sekali eskrim dan anak kecil itu tersenyum gembira sambil loncat-loncat, tetapi perempuan itu melongo kaget. Setelah memenuhi kotak ini, aku melihat perempuan itu akan menulis sesuatu lagi di memo kecilnya tetapi aku menarik tangannya dan menggiringnya ke kasir
“kamu suka coklat atau rasa buah” aku menawarkan kedua eskrim yang berada di tanganku untuk perempuan itu, ia meraih yang eskrim rasa buah langsung membukanya dan melahapnya kemudian ia menulis sesuatu di memonya
SEGAAAR
Aku tertawa melihat ekpresinya. Aku mengajak keduanya ke penjual kaki lima tempat orang tua anak kecil itu berdagang
“yaaa… eskrim gratis untuk pelanggan siang iniii” aku membagikan eskrim itu ke pelanggan warung bakso milik orang tua anak kecil itu. Terlihat anak kecil itu menjelaskan apa yang terjadi. Masih tersisa lumayan banyak eskrimnya, aku punya ide untuk menggunakan ini sebagai promosi, aku keluar tenda
“AYO… BELI BAKSO GRATIS ESKRIIIM” aku berteriak, tiba-tiba banyak sekali yang datang, aku sampai kewalahan membagikannya, aku melambaikan tangan ke arah perempuan itu memberi isyarat untuk membantuku. Ia berlari dan ikut membagikan eskrim gratis ini.
Setelah semuanya selesai, aku menghampiri orang tua anak kecil tadi
“pak, buk, maaf ya… Sudah bikin gaduh warungnya… hehehe, tadi aku nggak sengaja jatuhin eskrimnya anak ibuk, ia nggak berani pulang karena katanya ia mengambil uang ibuk untuk membeli eskrim, nggak papa ya buk kan masih anak kecil, di maafkan ya?”
“oh, nggak papa mas!! Kami malah yang harusnya minta maaf ngrepotin, sekaligus terimakasih, berkat aden warung ibuk rame!!” ibu itu menyambut bengan gembira dan bapaknya tersenyum cerah sekali sambil meracik pesanan bakso
Aku berjalan meninggalkan warung bakso bersama perempuan itu, waktu semakin sore udaranya pun semakin segar ketikka kita berjalan bersama sambil menikmati eskrim. Aku menepuk pundak perempuan itu
“terimakasih” ucapku, ia tertunduk senyum dan kembali meneruskan langkahnya. Kusimpulkan ia menjawab sama-sama, aku ikut tersenyum, aku melihatnya kembali, sepertinya ia terlihat tambah cantik ketika ia tersenyum. Sekarang aku tertawa terbahak melihat kebodohanku, toh ia tidak tahu kalau aku tertawa terbahak. Hahahaha
Aku berhenti dan meraih memo kecil yang dikalungkan di lehernya aku menuliskan nama dan no HPku, aku menatapnya. dan sekarang baru aku sadar kalau matanya lebih menakjubkan dari pada senyumnya
“ini namaku bisa panggil Aden”
Ia menuliskan sesuatu lagi di memonya, kali ini cukup lama ia menulis. Ia menyobek kertasnya dan memberikannya padaku, mungkin itu juga nama dan nomer HPnya.
“terimakasih”
Aku kaget mendengar suaranya. Ia berlari meninggalkanku. Aku hanya terdiam mendengar suaranya setelah beberapa jam kulewati tetapi hanya bisa berkomunikasi melalui kertas kecil ini. aku membaca isi memo tersebut
Aku tak bicara bukan berarti aku bisu
aku hanya tuli
aku tak bicara karena sakit rasanya merasakan
suaraku tak terdengar,
nanti kalau kita bertemu lagi, kutunjukkan
bagaimana indahnya dunia tanpa harus kita dengarkan
suaranya,
dunia indah terlihat jika kita benar-benar merasakannya,
seperti yang kita lalui tadi
Hani
Tiba-tiba waktu yang kuanggap berhenti ketika tunanganku meninggal, sekarang mulai berputar.
Satu detik… Dua detik… tiga detik… empat detik…
Cerpen Karangan: Bigza Aziza
Cintaku indah seindah suara yang kau lantunkan dari bibir merahmu, cintaku sejati bagaikan karang yang di hempas ombak, cintaku putih, seputih berlian dan mutiara yang bersinar. Namun, cintaku hancur dan hilang ketika dirimu berpaling menjauh.
Pagi itu, aku dipanggil temanku ke lapangan untuk olahraga pagi, ia ingin aku juga ikut bersamanya, tetapi pada saat itu aku nggak tahu ia mau ngapain… “risky, ayo kita pergi ke lapangan!” ajak feri, “iya tunggu dulu, aku mau cuci muka dulu yah” balasku padanya dengan perasaan yang masih ngantuk. “Baiklah tapi jangan pake lama yah”
“Ayo kita pergi,” ajak feri kepadaku. Kami pun berjalan menuju lapangan dengan sedikit berlari hitung hitung keluarin keringat. Ketika kami sampai di lapangan, ia mengajakku untuk bermain bola, “ayo risky kita bermain!” ajak feri. “ah, aku nggak mau aku ingin melihat lihat saja!” kata ku. Baiklah aku ingin pergi dulu yah.” Ujar Feri lalu berlari. Aku duduk di pinggir lapangan, sambil melihat lihat orang yang sedang beraktivitas pagi itu.
Namun, tiba tiba aku melihat seseorang yang rasa rasanya aku kenal, tetapi aku lupa namanya. Sehingga aku menghiraukannya. Dan tidak lama ia mendatangiku dan berkata “hai reski kau udah lupa sama aku?” kata gadis itu. “Kamu siapa?” Sambil berfikir “yah sekarang aku ingat kamu pasti N…n.. Nanda kan, yang 3 tahun lalu pindah ke bandung?” kata ku yang sedikit bingung dan heran. “ya, kau benar aku Nanda” katanya kepadaku. “Kapan kamu datang kesini?” tanyaku kepadanya. Aku datang kesini sejak 3 hari yang lalu karena aku ingin Menjenguk nenek ku yang sedang sakit.” balasnya kepada ku.
“Kamu banyak berubah yah, kamu sekarang lebih cantik!” kataku yang sedikit memuji. “ah bisa aja kamu.” kata Nanda kepadaku. “Tunggu dulu yah aku panggil Feri ia sedang main bola.” Kataku kepada Nanda. “Feri ayo kesini ada kejutan nih!” teriakku padanya. Ia pun lari menghampiriku “ada apa sih res, kayanya spesial banget!” katanya yang sedikit capek.. “lihat aja tuh siapa yang datang!” balas ku padanya.
“Nanda, apa kau Nanda?” Tanya nya kepada gadis itu. “yah ini aku, bagaimana kabar kamu ri?” Tanya nya kepada feri. “aku baik baik saja.” Jawab Feri dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Lalu kami bertiga pun berbincang bincang hingga waktu udah sampai siang hari.
“hai kalian berdua, mau temenin aku nggak?” Tanya Nanda kepada kami berdua. “kalau aku sih nggak bisa wa, karena ku mau pergi latihan drum” jawab feri. “kalau kamu ris, mau temenin aku nggak?” Tanya Nanda kepadaku. Aku menjawab bahwa aku mau mau saja. dan aku pun ditunggunya nanti sore
Sore pun tiba, setelah mandipun dan merias diriku hingga rapi aku pun pergi, tetapi ketika aku keluar rumah aku minta izin di ibu, ibu ku terlihat heran melihatku sangat rapi. “kamu mau kemana ris, kayaknya rapi banget tu?” Tanya ibu. “aku ingin nganterin Nanda ke toko bu.” Kataku kepada ibu.
Setelah aku tiba di depan rumah Nanda, aku mengetok pintu dan mengucapkan salam, lalu Ibu Nanda datang, “ada apa nak..? Cari siapa?” Tanya Ibu Temanku itu. “Maaf Bu, Saya ingin bertemu Nanda, ia meminta saya untuk menemaninya” Kataku dengan santai. “Oh, iya, tunggu yah nak!” Jawab Ibu Nanda. Aku pun menunggu di depan rumah, dan, ketika Nanda keluar aku terkagum melihat kecantikannya setelah ia berdandan, seolah dunia berhenti dan diriku hanya terfokus pada seseorang, bagaikan bidadari yang jatuh dari surga. “mengapa kamu ngeliatin aku gitu ris?” Tanya Nanda kepadaku. “e..e… enggak” jawabku sedikit gugup. “yah sudah kalau begitu, ayo kita pergi karena aku udah nggak sabar buat jalan jalan di kota ini lagi.” Jawabnya kepadaku.
Kami pun berjalan bersama… sampai sampai waktu sudah malam, kami pun pulang ke rumah, kembali ke rumah mereka masing masing. Setelah mandi, aku dipanggil ibu untuk makan, tapi aku tak mendengarnya, karena aku masih membayangkan Nanda, ia sangat cantik, hingga sampai sampai membuat ingat terus padanya. “Reski, ayo makan nanti makanannya habis.” Teriak ibu karena aku sedang melamun. “iya bu.” Aku cepat cepat berlari ke dapur untuk makan. setelah makan, aku hanya keluar di depan rumah untuk duduk santai di serambi rumahku tercinta. Setelah itu aku masuk kamar, sambil berbaring, ingatanku hanya tertuju pada satu fokus, terus membayangkan Nanda, “aku nggak habis pikir, Nanda dapat berubah, ia sangat cantik, tak kalah dengan Cinderella. Apakah ia akan tinggal disini, karena mungkin ayahnya sudah selesai untuk bekerja aku pikir aku Menyukainya, tapi aku nggak berani ngengungkapinnya”. kataku dalam hati. Aku pun tertidur, “Nanda, Nanda jangan tinggalkan aku, aku mohon jangan tinggalkan aku.” Kataku yang sedang mengigau.
“Reski, bangun, kamu kenapa nak?” kata ibuku. Tetapi aku masih saja mengigau dan akhirnya ibu pun menyiramku dengan air karena terpaksa. Ketika aku sudah bangun, “ah… Ada apa ini, kok ada air!” kataku yang sedang kaget dan kebasahan. “Kamu mengigau tetapi kau ibu bangunkan kau tak mau bangun, yah sudahlah tidurlah kembali.” kata ibu, sambil pergi kembali ke kamarnya. Keesokan harinya, aku pun pergi ke rumah Nanda, setelah aku sampai di rumahnya, aku melihat Nanda sudah mau pulang kembali ke bandung. “Nanda, kau mau kemana?” Tanya ku sedikit heran. “Aku ingin pulang ke bandung, karena ayah ku masih bekerja. titip salam yah buat feri.” Kata Nanda.
“aku, aku, mau bicara sama kamu, ada persoalan penting yang ingin ku katakan padamu!” kataku sedikit gugup. “ada apa, kok kamu gugup gitu, santai aja kali.” Jawab Nanda dengan tenang. “sebenarnya, aku tidak berani menyampaikan hal ini, tapi agar tak ada tertinggal aku mau jujur, sebenarnya aku nyimpan perasaan ke kamu, aku ingin mengatakan aku suka sama kamu, mau nggak kau jadi A..A… Adinda yang melabuhakan cintanya ke hatiku?” Tanyaku sambil menghela nafas. “aku juga suka ama kamu, tapi buat pacaran, kayaknya aku nggak bisa, kita jalani hidup aja dulu, kita masih perlu untuk menuntut ilmu. Biarlah kita bersahabat saja, Namun aku bukannya menolak, aku akan setia untuk menunggumu, menunggumu sebagai pelabuhan tempat cintaku kan kusandarkan”. Balasnya padaku dengan sedikit raut wajah yang kecewa.
Hatiku merasa sedikit kecewa. Mobil yang akan di tumpangi Nanda pun datang dan Nanda pun pergi, tetapi sebelum ia pergi ia memberiku kalung yang bertuliskan NR. Aku merasa terhibur, walaupun hatiku sedikit teriris perihnya kegalauan. “Aku akan tetap berusaha buat rebut hatinya Nanda.” Kataku dalam hati dengan optimis. Aku sadar Nanda sahabatku, namun aku harus berusaha, dia akan menunggu, dan aku akan berusaha untuk menjadi kanda dari seorang dinda yang menjadikan hatiku sebagai persinggahannya kelak.” Kataku dalam hati mencoba menyemangati diriku. Aku pun pulang dengan harapan yang selalu ku pendam dalam qolbuku. “Dinda, Ku Tunggu Kau Kembali” Kataku di dalam hati.
Mungkin setiap rasa dalam hati adalah anugerah, tapi bukan berarti cinta adalah segalanya, semua akan lebih baik jika kita lebih berfikir dan memikirkan kedepan. Percayalah, tak akan ada cinta yang akan singgah bukan pada tempatnya.
Cerpen Karangan: Muhammad Rifki Nisardi
“Huft.. Akhirnya..!!” kataku dalam hati sambil mengusap keringat yang mengucur deras dari wajahku.
“Gimana Ta? lumayan bagus kan?” kata mamaku seraya melihat toko permen yang akan aku buka dengan mama mulai besok.
“Iya mah, nuansanya dapet banget, makasih ya mah, udah bantuin aku!” kataku seraya mengecup pipi mamaku.
“Ya sudah, sekarang kita pulang ke rumah, membuat permen cokelat yang banyak untuk dijual besok di toko baru kita ini”
“Baiklah, ayo mah, aku udah gak sabar untuk membuat permen cokelat sama mama.” Mama hanya tersenyum mendengar omonganku itu.
KEESEKON HARINYA.
“TELAH DIBUKA TOKO PERMEN COKLAT KEBERUNTUNGAN” itu adalah bunyi dari slogan yang ku buat dengan mama kemarin untuk menarik perhatian pengunjung. Ya walaupun gak terlalu bagus, tapi lumayan lah untuk menarik perhatian pengunjung. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku kompak sekali dengan mama, itu karena Papaku sudah tiada. 2 tahun lalu, Papa kecelakaan mobil saat ingin pulang ke rumah dari tugasnya di Manado. Mama sangat terpukul dengan kepergian Papa, jadi aku berencana, dengan menyibukkan Mama, Mama gak akan terlalu merasa kepergian Papa yang terlalu cepat.
“Silahkan! Kami sedang mengadakan promo pembukaan toko kami, silahkan mampir!” teriakku untuk menarik pengunjung.
“Gak semudah yang kamu kira sayang, menarik perhatian orang itu susah” kata mama yang tiba-tiba ada di sampingku.
“Ku pikir akan mudah, ternyata susah sekali ya?” jawabku dengan muka sedih.
Awalnya, ku pikir ini akan berlangsung lama, ternyata perkiraanku salah. Toko permen kami dalam seminggu sudah dapat memberikan kami keuntungan yang sangat besar! Mama sangat senang mengetahui hal itu, aku pun juga begitu. Hingga pada suatu hari, seorang lelaki berwajah indo datang mengunjungi toko kami, dan aku pun menyambutnya dengan baik seperti pengunjung yang lain.
“Selamat siang, selamat datang di toko permen keberuntungan!” kataku seraya tersenyum menatap lelaki indo itu.
“Selamat siang, nama toko yang bagus, tapi.. apakah benar akan mendapat keberuntungan?” tanyanya dengan muka sinis.
“Yaaa.. semoga saja..” jawabku seraya tersenyum.
“Oke.. aku mau permen love chocolate mint” pintanya seraya memberikan uang padaku.
“Tunggu sebentar yaa..”
Tak lama kemudian, aku kembali sambil membawa permen yang dia pesan. “Ini dia, silahkan dicoba” kataku sambil memberikan permen itu.
“Rasa apa ini? Kok rasa mintnya lebih kuat daripada rasa cokelatnya? Ini gak pantas untuk dijual!” katanya sambil terus mencerca permen buatanku itu.
“Tapi, jika komposisinya tidak pas, kenapa pengunjung kami paling suka dengan permen itu?” jelasku padanya sambil setengah melotot.
“Itu mungkin karena mereka tidak ingin membuatmu sakit hati, tapi aku yakin jika kamu tidak mengubah komposisi permen ini, pelangganmu akan pergi dengan sendirinya” kata-kata itu sungguh membuat aku takut, entah kenapa? Dia adalah orang pertama yang mengkritik permen buatanku.
“Besok aku akan kembali ke sini lagi, dan aku mau kau memperbaiki komposisi permen ini.” katanya sambil tersenyum sinis kemudian berlalu.
DI RUMAH.
“Aku pulang!!!” kataku sambil membanting pintu.
“Kenapa Ta?” Tanya mamaku yang kaget melihatku pulang sambil membanting pintu.
“Aku gak apa-apa mah! Aku mau ke kamar dulu, dan aku gak mau diganggu!” kataku sambil menaiki tangga menuju kamarku yang ada di lantai atas.
Kenapa? Kenapa dia ngomong kaya gitu? Nyakitin banget tau!! kalau toh permen itu komposisinya gak pas, kenapa permen itu masih jadi yang terfavorit di tokoku selama sebulan ini? kata-kata itu terus terngiang-ngiang di otakku sampai aku merasa pusing.
“Aku harus memperbaiki komposisi permen itu!” kataku dalam hati sambil membuka pintu dan segera menuju dapur. Aku langsung membuat permen itu dengan komposisi yang berbeda dari biasanya, dan berharap itu lebih baik dari yang sebelumnya.
“Aku harus bisa memperbaiki komposisi permen ini, aku gak mau hanya karena permen ini tokoku jadi bangkrut, aku gak mau ngeliat mama sedih jika nanti kenyataannya tokoku akan bangkrut” kataku dalam hati.
KEESOKAN HARINYA.
“Huft.. Semoga rasanya bisa lebih enak” kataku sambil tersenyum melihat permen Love ChocolateMint yang baru ku perbaiki komposisinya.
Tak lama kemudian, lelaki indo yang kemarin mencerca permenku kembali datang, tanpa basa-basi lagi aku langsung menyodorkan permen yang dia cerca kemarin.
“Silahkan dicoba! Ini sudah aku perbaiki komposisinya!”
“Kenapa kamu begitu marah? Itu kan demi kebaikanmu dan tokomu! Baik akan aku coba” katanya sambil mengambil permen yang paling besar.
“Bagaimana rasanya? Lebih enak kan? Komposisinya pas kan?” tanyaku setengah penasaran.
Lelaki itu hanya tersenyum sinis. “Ini tidak lebih baik dari kemarin, sekarang rasa cokelatnya yang terlalu mendominasi. Seharusnya kamu tahu perkiraan yang tepat dalam membuat permen ini. kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, silahkan kamu coba sendiri permen ini, dan rasakan apakah ada yang salah atau tidak. Aku tidak akan melupakan rasa permen yang kau buat dulu.” katanya sambil berlalu begitu cepat dan hanya meninggalkan uang di atas meja.
“Hah? Darimana dia tahu kalau aku pernah ngebuat permen ini waktu aku kecil?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
DI RUMAH.
“Mah.. Memang aku waktu kecil pernah punya temen cowok ya?” tanya aku pada mama.
“Iya, kamu punya satu teman cowok.” jawab mama sambil tersenyum padaku.
“Hah? Satu? Siapa dia mah?” tanyaku lagi pada mama.
“Dia bernama Steven, dia tetangga kita sebelum dia pindah ke Prancis, dia keturunan indo loh! Emang kenapa Ta?” jelas mama.
“Hah? Orang indo? Mama serius?” tanya ku setengah tidak percaya dengan apa yang mama jelaskan.
“Iya ngapain mama boong sih? Kamu juga kok tumben banget nanya begitu sama mama?” tanya mama.
“Enggak, gak papa. Soalnya tadi di tokoku ada lelaki yang dateng dan dia bilang aku gak akan pernah ngelupain permen buatan kamu dulu, gitu mah. Dan aku penasaran kira-kira dia siapa” jelasku pada mama.
“Jangan-jangan itu Steven, soalnya kemarin dia telepon mama kalau dia lagi ada di Jakarta dan dia nanyain tentang kamu, mama bilang aja kalau kamu lagi di toko permen kamu.” jelas mama.
“Iya kali ya mah, mungkin itu dia, oke mah aku mau buat permen Love Chocolate Mint yang pernah aku buat bareng sama dia dulu” kataku sambil tersenyum pada mama dan berlari ke dapur.
“Jika benar kamu Steven, aku akan berusaha membuat permen cokelat yang pernah aku buat dulu sama kamu. Semoga permen ini benar-benar permen Love Chocolate Mint” kataku dalam hati sambil tersenyum saat membuat permen itu.
KEESOKAN HARINYA.
Aku dengan semangat ekstra berangkat ke toko permen ku, berharap Steven akan datang lebih cepat hari ini. Dan benar saja, Steven sudah ada di depan toko permenku meskipun aku belum membuka tokoku itu.
“Ngapain kamu pagi-pagi gini? Aku kan baru buka toko jam 9?” kataku padanya.
“Aku ingin lebih cepat mencoba permen cokelat yang kamu baru buat, karena aku akan pergi sebelum jam 9 nanti.” jelasnya.
“Oh begitu.. ini aku sudah membuat permen cokelat yang kau mau dan semoga saja rasanya pas.” kataku sambil memberikan permen cokelat yang sudah aku bungkus dengan kertas kado warna hijau, warna kesukaan Steven.
“Repot banget, pake dibungkus segala” katanya.
Aku hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Dia pun mengambil satu permen itu dan memakannya sambil tersenyum.
“Ternyata kamu sudah ingat rasa permen yang dulu pernah kita buat bersama.” katanya sambil tersenyum.
“Tentu saja, bagaimana aku bisa melupakan rasa itu, Steven” kataku.
Dia kaget dan berkata, “Bagaimana kamu tahu aku Steven?” tanyanya padaku.
“Bagaimana aku bisa lupa dengan temen cowokku satu-satunya waktu aku kecil.” jawabku sambil tersipu malu.
“Aku senang kamu masih mengingatku sebelum aku kembali ke Perancis.” katanya dengan muka yang ku pikir itu adalah muka yang sedih.
“Tak perlu sedih, kita kan bisa bertemu lagi ketika kamu nanti pulang ke Jakarta.” kataku sambil tersenyum.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kertas kado berwarna pink, warna kesukaanku. “Ini buat kamu, tapi ku harap jangan dibuka dulu sebelum aku pergi” katanya sambil memberikan itu padaku.
“Baiklah, makasih yaa, ku rasa isinya akan sebagus bungkusnya.” kataku.
“kalau begitu, aku pergi dulu, sampai jumpa lain waktu jika aku ke Jakarta kembali” katanya sambil mengenggam tanganku.
“Iya semoga kita bertemu lagi, aku akan menunggumu.” kataku sambil tersenyum. Lalu dia pergi sambil melambaikan tangannya padaku.
Setelah membuka toko, aku beristirahat sebentar dan meluangkan waktu untuk membuka kado dari Steven. Tahukah kamu apa isinya? Dia memberikan aku sebuah kalung yang berlambang cinta, cokelat, dan sebuah daun mint, jika digabungkan menjadi Love Chocolate Mint. Dan tentunya ada sepucuk kartu yang bertuliskan,
‘Jangan pernah kamu lupakan cinta cokelat mint kita, karena aku gak akan pernah melupakannya, dan aku berharap kamu gak akan pernah melupakannya.’
“Tentu saja aku tidak akan melupakanmu, lelaki yang sudah mengajarkan bagaimana aku tidak boleh melupakan masa laluku.” kataku sambil berharap dia mendengar apa yang baru saja aku katakan.
Cerpen Karangan: Tasya Aulya R.
Semilir angin menemani indahnya siang ini, Dinda yang duduk manis melihat kekompakan teman-temannya yang bergurau tak sungkan dia juga ikut dalam gurauan teman-temannya.
Di ujung sana terlihat Dino sedang asyik bernyanyi riang diiringi dengan petikan senar senar gitar yang menambah kekompakan dari mereka. Suara Dino dengan teman teman-temannya yang begitu kompak membuat para pendengar ikut terbawa lagu-lagu yang dilantunkannya, tak sedikit murid-murid yang mendengarkannya ikut bernyanyi bersamanya, termasuk Dinda.
Entah apa yang membuatnya berimajinasi bersama Dino, padahal Dinda tau banget sifat Dino ke cewek, super cuek. Seringkali Dinda membuyarkan imajinasinya agar tidak berharap lebih terhadap Dino. Dari kejauhan dia pandangi Dino, tapi kenyataannya tak sedikitpun Dino merespon pandangan Dinda.
“Mungkin dia gak tau, dia kan masih asyik bernyanyi sama teman-temannya. Semoga saja suatu saat nanti dia merasa” Pikir Dinda
“Hey Din, ngelamun aja. Ngelamunin Rio ya?” Canda Rara
“Apa sih Ra, enggaklah. Aku tuh sama dia sudah end, sudah close book tau” Jawab Dinda
“Ahh yang bener, kulihat kamu dari tadi mandangin ke arah Rio terus” tambah Rara
Tapi aku nggak mandangin Rio, tapi..” Kata-kata Dinda terhenti, dia berusaha menahan kata-katanya, dia nggak mau teman-temannya tahu kalau dia suka sama Dino.
“Udah deh ngaku aja, nggak usah malu. Aku dukung kok, hehe” Kata Rara sambil kemudian duduk di sebelah Dinda dan ikut memandang kearah yang dituju Dinda.
Entah darimana, mengapa kini Dinda bisa suka sama Dino. Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal, ditambah pula sifat Dino yang begitu dingin ketika melihat Dinda.
“Untuk kali ini, aku harus bisa menyembunyikan rasa suka ku. Jangan sampai seorangpun mengetahui, karena nanti bakalan fix, ribet deh urusannya” Ujar Dinda, kemudian keluar kelas menuju tempat parkir.
Di luar sana dia telah ditunggu oleh Rara, yang sedang asyik melihat kakak kelasnya yang sedang eksis sambil saling lempar senyum. Dinda terdiam sejenak melihat itu semua, dia menginginkan hal itu terjadi antara Dinda dengan Dino, lalu Dinda duduk menjejeri Rara. Tiupan angin perlahan berusaha mengibarkan jilbab yang Dinda kenakan, perlahan dia memperbaiki jilbabnya sambil terus memandangi Dino.
Tak lama Dino dan teman-temannya pulang, termasuk Dimas seseorang yang sedari tadi saling lempar senyum sama Rara.
“Din, pulang yuk” Ajak Rara
Diam seribu kata, Dinda hanya menuruti ajakan Rara dan berjalan di sampingnya. Sesampai di tempat parker, Dinda mengetahui kalau sepeda motornya berjejer dengan sepeda motor Dino. Dinda terkejut bercampur senang bercampur malu, rasanya jadi satu antara senang, senang dan senang banget. Untuk kali ini benar-benar Dinda tidak berani untuk megambil sepeda motornya, entah seperti bertemu dengan setan saja. Memang bertemu dengan setan, setan yang selalu menggoda hatinya, setan yang membuatnya berangan-angan tinggi, setan yang menghiasi hatinya, setan yang membuatnya tersenyum, setan yang membuatnya mempunyai cerita baru. “Ya tuhan, mengapa aku jadi salting begini, padahal dia kan bukan siapa-siapa ku” Ujar Dinda dalam hati. Dinda menghampiri Rara
“Ra, tolong ambilkan sepeda motorku dong, please!” Pinta Dinda.
“Memangnya motormu dimana?” Tanya Dinda.
“Disana” Jawab Dinda, sambil menunjukkan tempat dimana dia memarkirkan motornya.
“Gila kamu, malu aku disana ada Dimas tuh. Memangnya ada siapa sih Din, Rio kan nggak ada disitu, biasanya kamu biasa-biasa aja tuh” Ujar Rara
“Nggak ada siapa-siapa sih, tapi kan disana banyak orang Ra” Jelas Dinda
“Udahlah, biasanya kamu juga berani kan mengambil sendiri, pokoknya nggak Rio” Tambah Rara
“Aku harus bisa menutupi ini semua, jangan sampai Rara curiga kepadaku. ya Allah kuatkan aku, jagalah rasa ini, hanya Engkau yang tahu” Ujar Dinda dalam hati
“Hey, malah bengong. Udah, cepetan kamu ambil motormu” Pinta Rara
“I..ya, iya-iya. Tunggu aku ya” Jawab Dinda, sembari menghampiri sepeda motornya.
Di sana terlihat Dino yang masih asyik duduk diatas motornya, sambil berbincang-bincang sama temannya. Terlihat jelas juga wajah Dinda yang menahan rasa nervous, tapi dia berusaha untuk menhilangkan rasa itu. Berharap Dino merespon sinyal-sinyal yang diberikan Dinda, tapi Fix semuanya berbalik 360 derajat. Kini rasa kecewa terlihat jelas di wajah manis Dinda. Semuanya berubah menjadi asam, tak sedikitpun respon dari Dino yang ia terima, hanya pandangan cuek yang diperolehnya sebagai souvenir untuk hari ini.
Sesampainya di rumah, langsung ia lemparkan tas ranselnya yang bewarna pink dia lemparkan tubuhnya ke kasur yang empuk dengan sprei bewarna coklat dengan motif bunga mawar itu. Ingin dia marah dan teriak sekencang-kencangnya tapi apa boleh buat dia hanya bisa menahan diri agar tidak mengikuti nafsunya. Langsung saja dia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat dhuhur sekaligus mengadukan perasaannya kepada sang khalik.
Dalam doanya, dia selalu mendoakan untuk kebaikan Dino. Agar terbuka pintu hati untuknya, tapi disisi lain Dinda berfikir Apakah yang dia lakukan itu telah benar di dalam ajarannya?
Setelah selesai sholat Dinda merasakan hatinya lebih tenang, rasa kecewa itu telah tergantikan dengan datangnya 1 sms masuk dari Rio, memang nggak penting sih tapi dia cukup senang kalau Rio sms, karena memang Dinda juga pernah mempunyai rasa dengan Rio, tapi sekarang rasa itu telah hilang.
Dinda lalu browsing tentang apa yang ia rasakan, dia menemukan sebuah jawaban dari apa yang ia fikirkan tadi. Tapi Dinda belum bisa menerima, karena dia selalu terbayang-banyang oleh wajah Dino. Entah apa yang membuatnya seperti ini, dia tidak mau mengulang rasa kecewa untuk yang kedua kalinya. “Mungkin untuk kali ini rasa kecewa itu akan lebih menyiksaku, sekarang aku berhadapan sama Dino, seorang yang super cuek sama aku, beda dengan Rio, mesipun dia tak punya rasa apa-apa sama aku, setidaknya dia masih bisa contact sharing sama aku” Pikir Dinda
“Enggak, aku nggak boleh terlalu berharap pada Dino. Mungkin belum ada jalan untukku. Mencoba menerima apa yang telah terjadi, dan akuu harus pintar-pintar menutupi apa yang telah kurasakan saat ini. Jangan sampai orang-orang mengetahui tentang perasaanku ini” Dinda mencoba memotivasi dirinya sendiri.
Hari-hari ini Dinda lebih sering bertemu sama Dino, setiap ada kesempatan dia selalu melihat gerak-gerik Dino. Hingga suatu saat Rara mengetahui kebiasaan yang dilakukan Dinda.
“Ciyee, Din mandangin siapa sih serius banget” Kata Rara mengagetkan Dinda
“Eng, nggak.. enggak mandang siapa-siapa tuh, cuci mata aja” Jawab Rara
“Cuci mata sama siapa? Sama Dino ya?” Canda Rara
“Hah? enggak tuh” Jawab Dinda singkat
“Fix! Aku sering ngeliat kamu, kalau kamu sering mandangin Dino, hayo ketahuan deh. Terus rio gimana?” Kata Rara
“Enggak Ra, kenal aja enggak kok. Rio buat kamu aja ya!” Canda Dinda
“Aku kenalin deh, dia kayaknya juga cocok sama kamu. Sama-sama manis, sama-sama cuek” Jelas Rara
Dinda hanya bisa tersenyum simpul dan pergi menuju mushola sekolahan.
“Hey Din, aku kok kamu tinggalin sih. Tunggu aku” Teriak Rara
Dinda menoleh ke belakang, kemudian menoleh lagi lurus ke depan melanjutkan langkahnya, dia berniat untuk sholat dhuha. Dia basuh wajahnya dengan air wudhu, air yang penuh dengan keberkahan, lalu dia melakukan sholat 2 rakaat sebanyak 2 kali, dan dalam doanya mengadukan apa yang telah ia rasakan saat ini, dan tak lupa dia selalu mendoakan Dino. Entah apa yang mendorong Dinda untuk selalu mendoakan Dino, padahal mereka belum saling mengenal.
Setelah selesai ia menuju serambi masjid untuk menghampiri Rara yang dengan setia menungguinya. Tak lupa senyum simpul tapi manis dia lemparkan ke Rara. Di ujung serambi terlihat Dino bersama teman-temannya, termasuk Rio dan Dimas juga ada disana, itu mendorong Dinda untuk selalu memandangi Dino, tapi Dinda berubah menahan nafsunya itu, karena dia tidak mau membuat sahabatnya itu curiga dengan apa yang dilakukannya.
“Din, aku ke toilet dulu ya” Kata Rara
“Iya, aku titip belikan minum ya, sama makanan juga boleh” Ujar Dinda
“Oke cantik” Jawab Rara dengan melemparkan senyum manisnya
Sepergian Rara, Dinda merasa diberikan kebebasan. Tiada henti-hentinya dia memandang Dino, dan tak jarang juga dia senyum-senyum sendiri entah apa yang membuatnya segila ini.
Di ujung sana terlihat sebagian anak-anak bermain bola voly, termasuk Dino dan kawan-kawannya. Tak jarang juga bolanya terlempar mengahampiri Dinda, dan sekarang dia seperti anak bola yang selalu mengambilkan bola-bola yang menghampirinya. Tanpa ia sadari karena terlalu asyik memandang Dino yang menunjukkan kebolehannya bermain sepak takrow 1 buah bola voly mengenai kepalanya,karena kaget dan rasa sakit juga Dinda langsung memegangi kepalanya, Mengetahui hal itu, Rara langsung berlari menghampiri Dinda. Kini pusing melanda Dinda, wajahnya menjadi pucat memang hari ini Dinda kurang enak badan dan dia sudah pusing dari rumah tadi.
Rara membopong sahabatnya ke UKS, tiba-tiba Dinda tidak mempunyai kekuatan lagi dia tidak sanggup lagi dan Dinda pun pingsan tepat di tengah-tengah lapangan, yang membuat seluruh mata tertuju pada satu adegan yang menggugah hati seseorang untuk membantu.
Dalam istirahatnya, Dinda melihat seseorang yang wajahnya mirip dengan Dino. Dia berjalan menuju ke arah Dinda, kini dia semakin mendekati Dinda, lebih dekat tapi dia tidak berhenti tepat dimana Dinda berada. Dia tetap meneruskan langkahnya menuju suatu tempat yang indah, penuh dengan kebahagiaan. Dinda bingung, Dinda mengikuti langkah laki-laki itu hingga kini Dinda semakin mendekati laki-laki itu, tiba-tiba dari belakang tangannya ditarik lembut oleh seseorang, dia begitu cantik dan bersih. Perempuan itu tersenyum pada Dinda, Dinda tahu persis kalau itu ibunya yang sudah di surga, Dinda merengek seperti bayi dia ingin tetap mengejar laki-laki itu tapi tangannya tetap tertahan oleh perempuan cantik, lalu perempuan itu mengajak Dinda berjalan yang berlawanan arah dengan laki-laki itu. Dinda ragu dengan apa yang dilakukan perempuan itu, tetapi perempuan itu memperlihatkan suatu tempat yang sangat indah, penuh dengan kedamaian, disana terlihat wajah orang-orang yang penuh dengan kebahagiaan. Perempuan itu memberhentikan langkahnya, dan dia mencium kening Dinda sambil berkata “jaga dirimu baik-baik baik, jangan mengikuti nafsumu Allah selalu bersamamu dan selalu menjagamu” Dinda kebingungan dengan semua ini, dan perempuan itu berjalan meninggalkan Dinda menuju tempat yang ia perlihatkan tadi. Dinda mengikutinya, tapi semakin dia mengejarnya semakin jauh dan menghilang dengan sekejap.
Dinda terbangun perlahan-lahan, menatap wajah sahabatnya dengan mata yang berkunang-kunang dan air mata yang membasahi menetes perlahan-lahan.
“Alhamdulillah, Din kamu sudah sadar. Kamu baik-baik saja kan” Ujar Rara dengan nada panik
“Iya Ra, Cuma kepala ku sedikit pusing” Jawab Dinda sambil menghapus air matanya
“Kamu nangis Din? Ada apa?” Tanya Rara
“Enggak kok Ra, tadi aku bertemu ibuku. Aku kangen sama dia” Jawab Dinda
“Kamu yang sabar ya Din” Ujar Rara sambil memeluk Dinda
“Hey Ra, jangan lebay deh. Biasa aja kali, gak usah drama gitu” Canda Dinda
“Ihh kamu ya Din, lagi sakit juga bisa-bisanya GJ. Nih diminum dulu obatnya” Gerutu Rara
“Hehe terimakasih ya. Eh aku kok bisa ada di UKS sih, perasaan tadi aku di mushola deh ngeliatin anak-anak main takrow” Tanya Dinda
“Ngeliatin anak-anak, apa ngeliatin Rio?” Canda Rara
“Ihh apaan sih, Rio lagi, memangnya gak ada topik lain apa? Eh ceritain dong mengapa aku bisa ada di sini” Ujar Dinda
“Tadi kamu pingsan tepat di tengah lapangan, akhirnya aku minta tolong. Akhirnya dan akhirnya ada 2 pahlawan kesiangan menolongku untuk mengangkatmu kesini. Gitu ceritanya” Jelas Rara
“Pahlawan kesiangan? Siapa?” Tanya Dinda kebingungan
“Rio sama Dino” Jawab Rara enteng
“Uhuuk.. uhuuk.. uhuuk…” Dinda tersedak
“Kenapa kamu Din? Ini minum dulu, pelan-pelan dong makannya. Disebutin nama Rio aja udah tersedak, kamu so sweet deh” Canda Rara
“Apaan sih kamu Ra, kamu tadi bilang Rio sama Dino yang membawaku kesini?” Tanya Dinda
“Iya, terus aku berjalan di belakang sama Dimas, hehee. Kenapa kok kaget gitu? Kamu pasti senang ya, Rio udah berkorban untuk kamu” Kata Rara sok dramatis
“Berkorban? Apa yang dikorbankan?” Tanya Dinda yang masih LoLa
“Mengorbankan bola takrow nya, hehee” Jawab Rara dengan wajah tanpa dosa
“Rio mengorbankan bola takrownya, berarti Dino juga mengorbankan bola takrownya dong. Berarti dia juga peduli sama aku, tapi mengapa waktunya tidak tepat” Kata Dinda dalam hati
“Hey Din, malah nglamun. kesambet lo nanti” Kata Rara sambil menepuk tangannya di depan muka Dinda, yang, membuat imajinasi Dinda buyar
Tiba-tiba Dinda teringat mimpinya tadi, dia ingin mengetahui arti dari sebuah mimpinya itu. Dia ingin menceritakannya ke Rara ,tapi mungkin Rara juga tidak bisa mengartikannya, malah bergurau aja nanti jadinya.
“Ra, yuk ke kelas. Sumpek aku disini” Ajak Dinda
“Kamu sudah sembuh Din?” Tanya Rara
“Sudah, nyantai aja deh. Aku sudah baikan kok, lihat nih sudah bisa tertawa kan aku” Jawab Dinda sambil melemparkan senyum manisnya
“Kamu yakin? Ya udah yuk” Kata Rara sambil membantu sahabatnya turun dari tempat tidur
Di luar masih terlihat banyak anak-anak yang asyik permainannya, memang hari ini hari bebas kegiatan KBM sudah selesai tinggal menunggu hasil raport. Dinda berjalan bersama Rara dengan penuh canda tawa menuju kelasnya, tepat di depan kelas XI IPA 2 terlihat Dino bersama teman-temannya sedang bermain gitar sambil bernyanyi riang. Dinda memandang Dino sekejap, kemudian dia langsung mengalihkan pandanganya ke kelas XI IPS 1 kelas Rio terlihat Rio juga bercanda gurau bersama teman-temannya dan Rio juga melempar senyum kepada Dinda. Kini Dinda dan Rara bergabung bersama teman-temannya di taman, mereka saling bergurau, dengan tidak sengaja dia melihat Dino ketika Dino juga melihatnya. Hati Dinda berdebar-debar seperti bom atom mau meledak, tapi bom itu tidak jadi meledak karena Dinda mengetahui walaupun Dino memandanginya, tapi dia masih terlihat cuek jelas di wajahnya. “Mungkin dia hanya ingin memastikan keadaanku saja, tapi mengapa cueknya nggak hilang-hilang, apakah dia tidak tahu apa yang ku rasakan kepadanya, ahh mungkin aku nggak penting baginya” Pikir Dinda
Tiba-tiba Dinda teringat dengan mimpinya tadi, lalu dia pergi menemui guru konselingnya yang dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Dia menceritakan semua tentang apa yang ia mimpikan, dan disitulah Dinda menemukan jawaban atas sebuah pengharapannya dan melalui mimpi itu Dinda belajar menghargai orang lain.
“Itulah jawaban dari doa”mu Din, kamu tidak perlu terlalu mengejar sesuatu yang belum pasti. Semua itu akan indah pada waktunya, ingat Allah selalu menjagamu” Jelas bu Farida selaku guru konseling Dinda
“Tapi bu, apakah sikap saya ini salah? Apakah aku nggak boleh menyukai orang lain?” Tanya Dinda yang belum puas dengan jawaban bu Farida
“Tidak Din, kamu tidak salah. Kalau kamu suka sama orang lain terutama cowok, itu berarti kamu normal. Dan kamu telah diberi anugrah oleh Allah, berupa rasa. Kamu harus pandai-pandai memasak rasa itu, kamu menjadikan rasa itu untuk kebaikan orang lain atau sebaliknya. Rasa suka itu indah, dan kamu harus pandai-pandai menjaga rasa itu jangan sampai rasa itu dikotori oleh setan. Titipkanlah rasa cinta itu ke Allah, karena rasa cinta itu juga dari Allah.”
Dinda berusaha menelan sedikit demi sedikit kata yang dikeluarkan oleh bu Farida, berniat untuk bertanya lagi tapi tertahan oleh sebuah kalimat keluar dari mulut bu Farida
“Tunggu tadi kamu bilang kalau di dalam mimpimu, lelaki itu menjauhi mu”
Belum sempat Dinda membuka mulut untuk mengiyakan, bu Farida sudah menjelaskan apa maksut dari itu semua.
“Itu berarti kamu tidak boleh terlalu mengejar laki-laki itu, ingat kita kan perempuan. Kita tidak sepantasnya untuk mengejar, tapi kita berusaha untuk bisa dikejar, meskipun tak ada yang ingin mengejar kita tapi kita tetap percaya suatu saat pasti ada seseorang yang membutuhkan kita dan mengejar-ngejar kita harus menunjukkan bahwa kita pasti bisa. Jadilah pribadi yang percaya diri, jangan mudah terpengaruh, dan ingat simpanlah rasa cinta itu biarkan kamu dan Allah yang tahu” Jelas bu Farida, kini Dinda sudah terlihat lebih ringan, bebannya sedikit terkurangi.
Sepeninggal Dinda dari ruangan bu Faridah kini dia lebih semangat untuk menggapai mimpinya, dan sejenak melupakan tentang perasaannya Dino. Dia hanya bisa berdoa semoga suatu saat Dino bisa merasakan cinta yang telah dititipkan ke Allah untuknya. Kini dia berusaha menyimpan rasa cinta itu jauh-jauh hanya dia dan Allah yang tahu, dan berharap itu sebagai hadiah terindah untuk seseorang yang telah disiapkan oleh Allah.
Cerpen Karangan: Nia Mawar Triana

You

“Jen, dia masih ada nggak?” tanyaku pada teman sebangkuku yang sedang asyik menyisir rambut.
“Masih,” jawabnya sambil menyibakkan poninya.
“Dia ngapain, Jen?” tanyaku lagi penasaran.
“Aduh, gue nggak tau, Cat. Udah lu lihat sendiri aja, daripada penasaran kayak gini,” sarannya.
Aku hanya terdiam. Aku tak berani menolehkan kepalaku ke area belakang kelas yang biasa jadi tempat tongkrongan “dia” dengan beberapa teman sekelasku.
“Ya udah ntar lo tanya aja ke Indri. Dia kanduduk di belakang pasti tau lah kalau si Bagasngapain aja,” lanjutnya sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Eh, lo mau kemana?”
“Biasa, ke WC. Mau ikut?” tawarnya.
“Mau dong,” aku berdiri dari tempat dudukku dan langsung menyusul Jenny. Ku beranikan diri menoleh ke arah “dia” yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Seulas senyum tergambar di wajahku.
“Kenapa lo, Cat, senyum-senyum aja?” tanya Putri, temanku, setibanya kami di WC. Tepatnya, di kaca WC.
“Hah? Nggak pa-pa,” jawabku gelagapan.
“Biasa, Put, masih terpesona sama Bagas,” sahut Jenny yang baru saja keluar dari WC.
“Ssst! Aduh lo kalau ngomong pelanan dikit dong,” pintaku sambil meletakkan telunjuk di bibirku dan memandang ke sekeliling.
“Hah? Lo masih suka, Cat, sama dia? Katanya udah move on?” Putri memandangku heran.
“Dia lagi move on, gaya doang, Put, padahal mah nggak bisa tuh. Hahahaha…” ledek Jenny.
Aku hanya meringis meratapi kenyataan bahwa aku belum bisa move on dari Bagas, anak kelas sebelah.
“Ck..ck..ck.. Gue kira lo udah bisa move on, habis lo udah nggak bahas dia lagi dan kayaknya lo fine-fine aja liat dia mesra-mesraan sama ceweknya,” ujar Putri panjang lebar.
“Kan kayaknya, Put, padahal? Dia setiap hari ngomongin Bagas mulu. Sampe bosen gue dengernya,” kata Jenny sambil mematut dirinya pada cermin.
“Udah ah, nggak usah bahas dia deh, jadi males kan,” aku berjalan meninggalkan mereka. Aku sudah mulai badmood kalau membahas Bagas dengan ceweknya.
“Males apa galau?” goda Jenny diiringi cekikikan Putri.
“Tahu ah,” kataku cemberut.
Aku membanting diriku ke tempat tidurku. Rasa lelah bercampur emosi menjadi satu. Bagaimana tidak emosi, aku melihat dengan jelas gadis itu naik ke motornya Bagas. Aku yang melihatnya langsung berlari secepat mungkin tanpa menghiraukan teriakan Putri yang memanggilku. Satu yang terlintas di pikiranku adalah aku ingin hilang dari tempat ini. Kini, air mataku tak kuasa lagi aku bendung kala mengingat hal tadi. Sudah cukup bagiku melihat dia kini berstatus pacar orang. Aku menangis terus sampai aku terbawa dalam alam mimpi.
Bangun tidur aku merasakan kepalaku berat sekali. Aku mengambil handphoneku untuk mengecek jam berapa sekarang. 18.50. Sudah hampir malam. Aku melihat diriku masih mengenakan seragam lengkap dengan kaos kaki. Tas sekolah beserta beberapa buku yang biasa kubawa ke sekolah, berserakan di lantai. Dengan cepat aku membereskannya sebelum aku dimarahi oleh orang tuaku.
Setelah mandi dan makan, aku kembali ke kamarku. Seketika seperti sengatan halus namun dalam merasuki tubuhku. Dengan cepat, kenangan indah bercampur pahit bermain di depanku. Saat aku mengenal Bagas. Kami bercanda ria di dalam sebuah bus yang membawaku beserta teman-temanku pergi ke suatu tempat. Saat aku melihat dia dari jauh. Saat aku berhubungan dengannya melalui sebuah pesan singkat. Saat dirinya memanggilku dengan sebutan yang sangat amat kurindukan saat ini. Namun, dengan cepat pula berganti menjadi kenangan pahit saat aku mengetahui hatinya tertuju kepada siapa. Saat aku harus menerima kenyataan bahwa dirinya menyukai temanku sendiri. Saat aku lost contact sekian lamanya. Saat aku harus mendengar dirinya telah menjadi milik temanku. Untuk kesekian kalinya, air mataku turun.
Aku tidak tahan untuk tidak menyimpan cerita ini sendiri. Maka aku menceritakan hal ini kepada Jenny, sahabat baikku.
“Gue nggak bisa move on, Jen,” ucapku lirih.
“Bukan nggak bisa tapi belum, Cat,” katanya lembut. “Iya mungkin lu emang belum bisa buat lupain dia,”
“Gue nggak tahan, Jen, lihat dia sama tuh cewek,”
“Iya gue ngerti ko, Cat, tapi semua itu butuh proses. Ada kalanya kita mencintai seseorang yang emang nggak cinta sama kita. Remember, milikilah hati yang tulus untuk dapat mencintai yang tak bisa mencintai,”
“Tapi gue rasa pasti nggak susah kok buat lupain dia,” sambungnya sambil tersenyum.
“Apa? Cari yang baru? Nggak ah, nggak minat. Hati gue masih di Bagas,” kataku ogah-ogahan.
“Hahaha… Ya udah lah Cat, pokoknya kita kan masih 16 tahun. Masih labil. Jadi kita nggak tau kan perasaan kita ntarnya gimana. Jadi jalanin aja. Nggak selamanya dunia itu berpihak pada kita. Anggap ini pembelajaran buat kita menjadi dewasa,” ucap Jenny bijak.
Aku tersenyum malu. Benar juga ucapan Jenny. Aku masih muda. Masih banyak yang harus aku kerjakan selain memikirkan orang yang tidak memikirkan kita. Yang terpenting juga adalah jika kita mencintai seseorang, kebahagiaannya adalah segalanya untuk kita walau Ia bahagia bukan bersama kita.
Cerpen Karangan: Katharina Retni
Chelsea, itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga kecil bahagia. Ayah, ibu dan adik. Ketiga orang itu, orang terhebat dalam hidupku.
Pagi ini, aku kesal. Atau bahkan setiap pagi. Aku kesal! Kenapa matahari cepat sekali memaksa aku untuk bangun? Matahari tak mengerti, capek yang aku rasakan! Astaga, aku berucap apa tadi? Ooh… Aku salah.. Maafkan aku, Tuhan… Inilah aku. Anak yang belum mengerti waktu. Aku bergegas ke kamar mandi. Nampaknya, nanti aku telat masuk sekolah. Hari sekolah pertama. Aku telat? Apa yang terjadi?! Mengapa ayah dan ibu tak membangunkan aku tadi pagi? Aku bangun jam enam! Aku tak mau menguras waktu, hanya untuk berkata terus terusan! Ayo Chelsea.. Ke kamar mandi!!!
Aku sudah mandi.. Aku berdandan dahulu. Tapi, apakah waktuku cukup? Chelsea, kau memang anak yang lelet! Daripada berdandan, lebih baik sarapan!
“ibu kenapa tidak membangunkan aku tadi?” aku kesal! Kesal sama ibu! Sudah tau, aku ini anak lelet! Tapi, ibu tak mau membangunkan aku!!
“sudah seharusnya kau mandiri nak! Memangnya, urusan ibu hanya membangunkan kamu saja? Urusan ibu banyak! Kalau kamu lelet terus, bagaimana bisa mandiri? Disiplin sendiri? Sudah ayo makan!” nasehat ibuku. Ooh, ternyata aku yang salah? Baik lah ibu.. Aku minta maaf padamu. Aku janji, akan lebih baik lagi!
Aku pergi ke sekolah. Tapi, kenapa tidak ada rasa semangat pada diriku? Padahal, aku sendiri yang ingin sekolah disini! SMP Cendana. SMP swasta yang paling diminati di kotaku. Aku berangkat, naik mobil ayah. Beliau bekerja sebagai guru di SMP ku juga. Ibuku bekerja sebagai tukang jahit. Adikku baru kelas 3 SD. SD adikku tak jauh dari SMP ku. Kalau berangkat, aku, ayah dan adik. Ibuku tinggal di rumah. Menjahit baju pesanan orang orang.
Rasa deg degan mulai terpancar di dadaku. Aku mulai merasakan sekolah baru. Aku berfikir, apakah sekolah baruku seperti SD dulu? Tidaklah!! SD itu kecil! Aku sudah besar! Sudah remaja!
“bye ayah!” aku mencium pipi ayahku. Mencium pipi adikku. “bye adek!”. “hati-hati sayang” nasehat ayahku.
Aku masuk ke kelas 7A. Tampak anak anak yang ceria. Tak sepertiku. Aku duduk di belakang sendiri. Meletakkan tas biruku. “duduk di depan dong kawan! Penuhi dahulu bangku depan!” ucap salah seorang anak, yang belum aku kenali. “baiklah. Aku akan duduk di samping tas warna hitam itu.” ucapku, menuruti perintah (dia). “nama kamu siapa kawan?” tanya anak itu lagi, kepada ku. “aku Chelsea” jawabku singkat. “ooh, aku angel.” anak itu tersenyum manis kepadaku. Rupannya, ada anak yang langsung mau berteman baik padaku. Aku membalasnya dengan senyum juga, aku mengajak berjabat tangan kepada anak itu. “aku ingin bertanya sama kamu angel. Sebenarnya, milik siapa tas ini?” aku bermaksud menanyakan, siapa tas di sampingku. “ooh, aku pun tak tau.” teet tet te.. Bunyi bel tanda masuk sekolah. “ya sudah angel, kamu duduk sana, sudah masuk!”
aku menyuruh angel untuk duduk. “baiklah chelsea.” anak itu senyumannya sangat manis. Aku suka dengan anak itu.
Teman sebangkuku datang? Siapa dia? Dia cowok? Aku merasa risih kalau seperti ini! Ooh tapi tak apalah, angel juga demikian. Dia deket sama cowok juga.
“namakamu siapa cantik?” tanya cowok itu kepadaku. Cantik? Apa aku cantik? Aku tersipu malu. Aku merasa merinding.
“aku chelsea” aku singkat saja jawabnya! Aku tak mau tanya nama anak itu dahulu.
“ooh aku bagas.” anak itu menjawab. Bagas? Dia namanya bagas? Dia tampan! Tapi. Aku masih smp tak boleh lah!
Istirahat pertama tiba. Aku ingin mengajak angel untuk keluar. Menuju kantin.
Aku sudah membeli jajan. Bersama angel di kelas, aku makan jajan bersama. Tiba-tiba aku kaget. Kenapa ada banyak surat di tas aku? Aku meminta angel untuk membukanya. “angel, banyak sekali surat ini.. Dari siapa saja? Kertas beda. Pasti tak hanya seorang yang ngasih ini!” ucapku kepada angel. “oke kita buka yuk sama-sama. Bolehkan aku ikut membuka?” tanya angel padaku
“tentu ngel.” aku tersenyum kepada peri cantik, angel. Satu persatu surat kubuka. Astaga, 10 surat, isinya, semua cowok nembak aku? Oh My God! Apa yang harus kulakukan? Hati kecilku ini berkata, aku terima sajalah Bagas, teman sebangkuku. Karena aku juga suka sama dia. Dan cowok yang aku kenal hanya dia. Bel masuk telah bunyi. “angel makasih ya, udah bantuin.” ucapku pada angel. “ia chelsea.. Ku ucapin selamat ya..” angel lagi-lagi menarik aku, dengan senyum manisnya. “makasih ngel.” aku juga, terseyum pada angel.
Oh My God, cowok ganteng datang. Bagas datang. Gimana? Apa yg aku katakan? “how chelsea?” kata Bagas. “okey.” kataku singkat. Aku jadi princessnya Bagas. Tapi, apa reaksi teman-temanku setelah mendengar kalau aku pacaran sama Bagas? Semoga mereka tetap positif thinking. “yakin?” ucap bagas padaku. “ya” aku berkata singkat.
Hari pertama sekolah, langsung seperti ini. Aku bahagia banget. Kutulis diary ini di buku harian aku. Andai hal ini tak terjadi, tak akan kutuliskan di buku diaryku.
Cerpen Karangan: Firsta Putri Paradina
Sudah lama ku mengenalnya. Kira kira 5 tahun yang lalu. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sampai saat ini kita satu kelas dan satu sekolahan. Pertemanan kita begitu baik, tak ada pertengkaran selama 5 tahun itu. Karena kami saling mengerti satu sama lain. Begitu dengan hal yang berkaitan dengan hati, dia selalu senantiasa mendengarkan kata kataku, tangisanku, ocehanku dengan sabar. Tak seperti pria yang dulu telah menghiasi hariku yang kini menghilang entah kemana.
Riyan sahabatku itu sampai saat ini belum merasakan bagaimana rasanya Jatuh Cinta. Daricara ia berbicara, melihat, memegang wanita masih terlalu polos. Tapi kurasa ia sangat pandai dalam hal itu walau ia tak pernah merasakannya. Caranya menasihatiku seperti sudah sangat mahir dengan permasalahan di dalam hubungan. Tak kurasa juga sebentar lagi kita lulus dan akan melanjutkan hidup masing masing.
Tetapi jika Tuhan berkehendak pada kita. Kita akan tetap selalu bersama.
Pukul 20.00 suara motor berada di depan rumahku. Segera kubukakan pintu dan ternyata Riyan berkunjung ke rumah malam hari. Aku bingung, tak seperti biasanya Riyan datang ketika matahari menjadi bulan. Riyan memarkirkan motornya di halaman. Dan kulihat jelas wajahnya penuh senyuman.
“Hey..” sapanya
“Hey yan, ada apa? Tumben banget malem malem ke rumah..” tanyaku penuh keheranan
“Aku mau ajak kamu keluar, boleh?”
“Boleh aja sih, mau kemana?”
“Ehm ikut aku aja deh nanti kamu pasti juga bakalan tau. Nggak ada acara kan malem ini?”
“Ngga kok, bentar ya aku ganti baju dulu”
Setelah selesai. Aku ikut dengan Riyan. Entah ingin diajaknya kemana malem ini. Aku hanya bisa menuruti kemauannya karena ia teman baikku. Angin malam begitu dingin membuat bulu romaku berdiri. Riyan memberhentikan motornya di sebuah taman yang cukup indah, penuh dengan lampu warna warni dan terlihat begitu cantik. Riyan menggandeng tanganku ke kursi di tengah taman tersebut.
“Yan kamu mau ngapain sih?”
“Coba kamu lihat ke atas sana…”
Kulihat ke atas penuh bintang yang bergemerlap
“..indah bukan bintang itu” lanjutnya.
Aku menoleh dan tersenyum padanya. Kulihat ke arah atas lagi. Bintang semakin banyak menghiasi langit.
“Sumpah bintangnya bagus banget, yan”
“Kamu senang kan aku ajak kamu kesini?”
“Iya aku seneng banget. Makasih ya, yan”
Tak ada jawaban yang Riyan ucapkan. Seketika suasana hening sekejap. Riyan menaruh tangannya di belakang pundakku. Dirangkulnya aku dengan tangannya. Aku terdiam merasakannya.
“Put, aku boleh jujur ngga tentang perasaanku?”
“Boleh yan, jujur aja”
“Sudah 5 tahun kita bersama kan, Put”
“Iya emang kenapa?”
Tapi belakangan ini hal yang mungkin wajar pertama kali kurasakan tiba juga. Aku mencintaimu..”
Aku terdiam.
“Aku mencintaimu bukan karena apapun. Menurutku kamu memang wanita yang sederhana, apa adanya, mengerti aku. Dan sampai sekarang tak ada pertengkaran di antara kita..”
Aku masih terdiam.
“Kenapa kamu diam? Apa aku salah mencintaimu lebih dari seorang teman? Bagiku kamu adalah wanita yang langka dicari pria untuk dijadikan kekasihnya. Aku tahu kita sudah lama berteman, dan aku sadar mungkin kamu tidak mempunyai perasaan yang sedang kurasakan saat ini. Maafkan aku, Put. Aku mengkhianati persahabatan ini”
Aku mencoba menjawab
“Untuk apa kamu meminta maaf. Sedangkan kamu tak salah. Menyukai lawan jenis itu wajar. Tak ada salahnya jika kamu mencintaiku. Di dalam persahabatan pasti ada percintaan. Begitu juga antara kamu dan aku”
“Jadi wajarkah aku memelihara rasa ini padamu? Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mencintaiku?”
“Wajar saja jika masih dalam batasannya. Aku? Bagaimana denganku? Mungkin kamu tahu, aku belum bisa melupakan dia yang pernah melukai hatiku. Jika aku paksakan cinta ini untukmu pasti akan berakhir dengan perasaan kecewa. Aku tak mau membuat hubungan pertemanan ini yang begitu indahnya menjadi suatu yang membuat antara kita menjadi terluka”
Kuakhiri kata kataku. Dari saat itulah Riyan dan aku berteman semakin akrab. Seperti dua sejoli. Namun kita tidak bisa bersama. Riyan mengerti perasaanku dan aku senang mendengarnya. Dan sampai saat ini tak ada permasalahan menerjang karena kita menjalaninya dengan sifat yang dewasa.
Cerpen Karangan: Feby Fitriyani Putri