Minggu, 24 November 2013

“Kakak kelas sialan. Kenapa MOSnya harus manjat bukit segala sih!” gerutu Aline. Tangannya terus menancapkan tongkatnya ke tanah dan mendaki gunung itu. Peluhnya bercucuran kemana-mana. Sivia yang berada di sampingnya pun juga dalam keadaan yang sama dongkol dan lelah.
“Iya Lin. Awas aja kalo udah gak MOS udah aku bentak kali ye! Lin, gue mau nyusul Allyssa di depan ya!” Aline hanya mengangguk pasrah. Kenapa nasibnya begitu malang seperti ini.
Jalanan yang licin karena habis hujan menyulitkan Aline untuk mendaki bukit ini dengan cepat dan terpaksa membuat Aline berulang kali terpeleset kecil. Dan sekarang terpelesetnya bukan main-main. Aline hampir menggelundung ke bawah namun…
HAP
Tangan kekar seorang pria merengkuh pinggang Aline sehingga ia tak jatuh ke bawah. Mata Aline menatap lekat mata coklat pria itu sehingga matanya saling beradu pandang. Pria itu tampan, berkulit putih dan cool. Dan kenapa jantung Aline berdebar? Kenapa lelaki itu tak lekas melepaskan rengkuhannya?
Tangan pria itu membantu Aline berdiri tegak. Jemari besarnya menggenggam tangan Aline dan membantunya mendaki bukit itu. Sudah setengah perjalanan mereka mendaki bukit itu. Aline melihat wajah pria itu sudah bercucuran keringat. Aline merogoh saku celananya mengambil sapu tangan. Tangannya mengusap peluh yang bercucuran di dahi pria itu. Tangan Aline dicengkeram oleh pria itu dan membuatnya menghentikan aktifitas mengusap peluhnya itu.
“Thanks” Aline menganggukkan kepalanya dan memasukkan sapu tangannya kedalam saku kemudian menyodorkan botol air mineral ke depan pria itu.
“Lo pasti haus dan capek ini minum dulu” Pria itu tersenyum mematikan kearah Aline dan senyuman itu bisa membuat para wanita jatuh hati padanya.
Pria itu membuka tutup botol dan menuguk air mineral dari botol itu. Aline hanya memperhatikan pria itu yang dapat mempesona dirinya.
He is so handsome”
Siluet awan oranye sudah tampak mempercantik langit. Dan sebentar lagi hari mulai gelap. Aline dan pria itu sudah sampai di atas bukit. Mereka masih berdua menatap bawah bukit dan menerawang langit yang mulai gelap itu.
“Oh ya dari tadi kita belum kenalan. Kenalkan nama gue Aline Sabrina.” Aline menjulurkan tangannya ke arah pria itu. Pria itu membalas uluran tangan Aline.
“Nama gue Farell Justine”
Suaranya!! Untuk sekian kalinya suara itu berhasil membuat jantung Aline lepas kendali. Tangan Farell merangkul pundak Aline dan terduduk di atas bukit itu melihat bintang-bintang bumi dan bintang-bintang angkasa mulai berkelip menghiasi malam di bukit bintang ini.
Kenapa Aline terasa nyaman berada di sampingnya?
“Jika ini benar-benar cinta, aku ingin cintaku padanya seperti bintang di angkasa yang selalu indah berkelip di angkasa dan selalu menghiasi langit malam seperti dia akan menghiasi hari-hariku di setiap waktu”
THE END
Cerpen Karangan: Diana Kusuma Astuti

0 komentar:

Posting Komentar